Matius 6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
Kamis, 19 Desember 2013
Sabtu, 06 April 2013
KUASA DOA ITU NYATA
Pentingnya doa harian, suatu pertemuan setiap hari dengan Allah,
dan bukan sekedar ucapan doa sepintas lalu, dilukiskan dengan meyakinkan
dalam kisah dari seorang pedagang Kristen Armenia yang membawa barang
dagangan dengan kafilah melintasi padang gurun menuju sebuah kota di
Armenia bagian Turki. Setelah dibesarkan oleh orang tua Kristen, dia
telah membentuk suatu kebiasaan hidup menyerahkan diri setiap hari ke
dalam tangan Tuhan.
Pada saat peristiwa ini terjadi, negara itu didukuki oleh kamu "Kurdi" yaitu para bandit yang hidup dengan merampok kafilah-kafilah. Tanpa diketahui oleh pedagang itu, segerombolan penyamun ini telah mengikuti kafilahnya, dengan maksud merampoknya pada tempat pertama mereka akan berkemah.
Pada jam yang telah dipilih, di bawah naungan kegelapan, mereka datang mendekat. Anehnya semua terasa hening. Tampaknya tiada pengawal, tiada yang menjaga tetapi, selagi mereka mendesak maju, merekapun merasa heran, mereka menemukan tembok-tembok yang tinggi padahal tadinya tak pernah ada sama sekali.
Mereka terus mengikuti, tetapi malam selanjutnya mereka menemukan tembok-tembok yang tak juga dapat dilalui. Malam ketiga tembok-tembok itu tetap berdiri, tetapi ada lubang-lubang di dalamnya yang dapat mereka masuki.
Pemimpin para perampok, karena takut akan misteri itu, membangunkan sang pedagang.
"Apakah artinya ini ?" dia bertanya. "Sejak anda meninggalkan Ezerum, kami telah mengikuti dengan maksud merampok anda. Malam pertama dan malam kedua kami mendapati tembok-tembok tinggi mengelilingi kafilah ini, tetapi malam ini kami masuk melalui tempat-tempat yang runtuh. Kalau anda mau memberitahukan kami semua rahasia ini, saya takkan menggangu anda."
Pedagang itu sendiri merasa heran dan bingung. "Teman-teman," jawabnya, "saya sendiri tak berbuat apapun untuk mendirikan tembok sekeliling kami. Yang saya lakukan hanya berdoa setiap malam, sambil menyerahkan diri saya dan orang-orang yang menyertai saya kepada Allah. Saya sepenuhnya mempercayaiNya untuk menjaga saya dari semua yang jahat, tetapi malam ini, karena terlalu letih dan mengantuk, saya hanya memanjatkan berdoa dengan setengah hati saja. Itulah sebabnya anda diizinkan menerobos!"
Orang-orang Kurdi tertegun keheranan oleh kesaksian seperti ini.
Pada saat itu dan di situ juga, mereka menyerahkan diri kepada Yesus Kristus dan diselamatkan. Dari perampok kafilah, mereka berubah menjadi orang-orang yang takut akan Tuhan. Namun orang Armenia itu tak pernah melupkan lubang dalam tembok doa itu.
(Gordon Lindsay, Prayer That Moves Mountains, Dallas : Christ for the Nations Inc., cetak ulang 1984, halaman 47,48)

Dan Aku sendiri, demikianlah firman TUHAN, akan menjadi tembok berapi baginya di sekelilingnya, dan Aku akan menjadi kemuliaan di dalamnya."
Zakaria 2:5
Sebab TUHAN ialah tempat perlindunganmu, Yang Mahatinggi telah kaubuat tempat perteduhanmu, malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu; sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu. Mazmur 91:9-11
Pada saat peristiwa ini terjadi, negara itu didukuki oleh kamu "Kurdi" yaitu para bandit yang hidup dengan merampok kafilah-kafilah. Tanpa diketahui oleh pedagang itu, segerombolan penyamun ini telah mengikuti kafilahnya, dengan maksud merampoknya pada tempat pertama mereka akan berkemah.
Pada jam yang telah dipilih, di bawah naungan kegelapan, mereka datang mendekat. Anehnya semua terasa hening. Tampaknya tiada pengawal, tiada yang menjaga tetapi, selagi mereka mendesak maju, merekapun merasa heran, mereka menemukan tembok-tembok yang tinggi padahal tadinya tak pernah ada sama sekali.
Mereka terus mengikuti, tetapi malam selanjutnya mereka menemukan tembok-tembok yang tak juga dapat dilalui. Malam ketiga tembok-tembok itu tetap berdiri, tetapi ada lubang-lubang di dalamnya yang dapat mereka masuki.
Pemimpin para perampok, karena takut akan misteri itu, membangunkan sang pedagang.
"Apakah artinya ini ?" dia bertanya. "Sejak anda meninggalkan Ezerum, kami telah mengikuti dengan maksud merampok anda. Malam pertama dan malam kedua kami mendapati tembok-tembok tinggi mengelilingi kafilah ini, tetapi malam ini kami masuk melalui tempat-tempat yang runtuh. Kalau anda mau memberitahukan kami semua rahasia ini, saya takkan menggangu anda."
Pedagang itu sendiri merasa heran dan bingung. "Teman-teman," jawabnya, "saya sendiri tak berbuat apapun untuk mendirikan tembok sekeliling kami. Yang saya lakukan hanya berdoa setiap malam, sambil menyerahkan diri saya dan orang-orang yang menyertai saya kepada Allah. Saya sepenuhnya mempercayaiNya untuk menjaga saya dari semua yang jahat, tetapi malam ini, karena terlalu letih dan mengantuk, saya hanya memanjatkan berdoa dengan setengah hati saja. Itulah sebabnya anda diizinkan menerobos!"
Orang-orang Kurdi tertegun keheranan oleh kesaksian seperti ini.
Pada saat itu dan di situ juga, mereka menyerahkan diri kepada Yesus Kristus dan diselamatkan. Dari perampok kafilah, mereka berubah menjadi orang-orang yang takut akan Tuhan. Namun orang Armenia itu tak pernah melupkan lubang dalam tembok doa itu.
(Gordon Lindsay, Prayer That Moves Mountains, Dallas : Christ for the Nations Inc., cetak ulang 1984, halaman 47,48)
Dan Aku sendiri, demikianlah firman TUHAN, akan menjadi tembok berapi baginya di sekelilingnya, dan Aku akan menjadi kemuliaan di dalamnya."
Zakaria 2:5
Sebab TUHAN ialah tempat perlindunganmu, Yang Mahatinggi telah kaubuat tempat perteduhanmu, malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu; sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu. Mazmur 91:9-11
Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: "Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah? Bukankah Engkau yang membuat pagar sekeliling dia dan rumahnya serta segala yang dimilikinya? Apa yang dikerjakannya telah Kauberkati dan apa yang dimilikinya makin bertambah di negeri itu. Ayub 1:9-10
BAYANG-BAYANGNYA BERBENTUK SALIB
Pada tahun 1967, ketika mengikuti pelajaran di kelas fotografi Universitas Cincinnati, aku berkenalan dengan seorang pemuda bernama Charles Murray. Ia adalah siswa di sekolah yang sama denganku, yang sedang dilatih untuk persiapan olimpiade musim panas tahun 1968 sebagai seorang pelompat indah papan kolam renang. Charles sangat sabar terhadapku ketika aku berbicara selama berjam-jam dengannya tentang Yesus Kristus dan bagaimana Ia telah menyelamatkanku.
Charles tidak dibesarkan dalam keluarga yang beribadah di gereja mana pun. Jadi, semua yang kuceritakan kepadanya memesonanya. Ia bahkan mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang pengampunan dosa. Akhirnya, tibalah harinya untukku mengajukan sebuah pertanyaan kepadanya. Aku bertanya apakah ia menyadari kebutuhan dirinya akan seorang Penebus, dan apakah ia siap untuk memercayai Kristus sebagai Juru Selamat pribadinya. Aku melihat wajahnya berubah dan perasaan bersalah tergambar di situ. Namun, jawabannya tegas sekali, "TIDAK!"
Hari berikutnya, ia tampak diam dan sering kali aku merasa bahwa ia menjauhiku. Sampai suatu hari, aku menerima telepon dari Charles. Ia ingin mengetahui di mana ia dapat menemukan beberapa ayat dalam Perjanjian Baru yang telah kuberikan kepadanya mengenai keselamatan. Aku memberikan referensi menuju beberapa pasal dan bertanya apakah aku dapat menemuinya. Ia menolak tawaranku dan mengucapkan terima kasih untuk ayat-ayat yang kuberikan. Aku dapat menebak bahwa ia amat gelisah, tetapi aku tidak tahu di mana ia berada atau bagaimana cara menolongnya. Karena, saat itu ia sedang berlatih dengan fasilitas khusus milik universitas untuk menghadapi olimpiade.
Di antara pukul 22.30 -- 23.00 malam itu, Charles memutuskan untuk berenang dan melakukan sedikit latihan lompat papan. Malam pada bulan Oktober itu sangat cerah, bulan tampak penuh dan cemerlang. Kolam renang universitas kami berada di bawah langit-langit kaca sehingga bulan dapat bersinar terang melalui puncak dinding di areal kolam.
Ketika Charles mendaki papan lompat yang paling atas untuk melakukan lompatannya yang pertama, Roh Allah mulai menempelak dosa-dosanya. Semua ayat yang telah dibacanya dan kenangan saat aku bersaksi kepadanya tentang Kristus mulai memenuhi benaknya. Ia berdiri di atas papan dengan membelakangi kolam untuk melakukan lompatannya, merentangkan kedua tangannya untuk keseimbangan, memandang ke atas dinding, dan melihat bayang-bayangnya sendiri yang disebabkan oleh cahaya bulan. Bayang-bayangnya berbentuk salib. Ia tidak dapat menahan beban dosanya lebih lama lagi.
Hatinya hancur dan ia duduk di atas papan lompat itu dan meminta Allah untuk mengampuninya dan menyelamatkannya. Ia menerima Yesus Kristus di ketinggian lebih dari 20 kaki (7 meter) dari tanah. Tiba-tiba lampu di areal kolam menyala. Petugasnya masuk dan mengadakan pemeriksaan kolam.
Ketika Charles menengok ke bawah dari atas papan itu, yang dilihatnya adalah kolam yang kosong yang telah dikeringkan untuk beberapa perbaikan. Hampir saja ia menerjunkan dirinya menuju kematian, tetapi salib telah menghentikannya dari bencana tersebut.
(Diambil dan disunting dari:/Nama buletin: Buletin Sinode GUPDI, Edisi IV/2002/Penulis: Tidak dicantumkan/Penerbit: Sinode GUPDI, Solo 2002/Halaman: 33/i-kan-kisah)
* * * * *
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Roma 8:28).
O B A T
Pertama kali dengar kata obat pasti saya akan berpikir rasanya yang pahit. Sebab mau obat yang dalam bentuk sirup pun tetap ada rasa pahitnya.
Waktu kecil saya jarang sakit, tetapi kalau sakit paling malas kalau disuruh makan obat. Karena rasanya yang pahit. Tetapi ketika mulai remaja, dan mulai sakit persendian juga tulang belakang. Hampir setiap hari saya makan obat anti sakit.
Karena makin hari tulang belakang nggak bisa dilurusin. Akhirnya saya pun kesulitan untuk menelan obat. Sehingga selama obat itu boleh di potong atau hancurkan, saya memakannya dengan mengigitnya.
Awalnya sungguh tidak enak, sebab sangat pahit dan beberapa obat baunya aneh. Tetapi lama kelamaan saya menikmatinya.
Saya berpikir pahit adalah salah satu rasa yang dapat kita rasakan dengan lidah kita. Dulu saya tidak mengerti kenapa banyak orang yang suka makan sayur yang pahit-pahit. Saya kira mereka suka karena mereka dapat menikmati rasa pahit itu.
Lalu di dalam kehidupan kita pun sebagai anak Tuhan. Terkadang Tuhan membawa kita mengalami masa-masa yang pahit. Di alkitab pun ada contohnya yang sangat terkenal, diizinkan Tuhan mengalami masa-masa yang sangat pahit yaitu cerita Ayub.
Jika kita saat ini berada di masa-masa yang pahit. Cobalah untuk menikmatinya. Sebab seperti lidah kita diciptakan untuk merasakan berbagai rasa. Demikianlah kehidupan kita dirancang oleh Tuhan supaya dapat menikmati segala yang terjadi di dalam dunia ini.
Entah pahit, manis, asin, asam, atau pun pedas yang kita rasakan saat ini, marilah kita tetap bersyukur kepada Tuhan. (DedyYanuar)
* * * * *
Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. (1 Tesalonika 5:18)
BAGAIMANA MENGERTI KEHENDAK ALLAH DI DALAM KEHIDUPAN BERKELUARGA
Kesaksian Dimitri FU (Jemaat GKT)
Diilhami oleh pemberitaan Firman Pdt. Handoyo Santoso dengan judul ‘Praise & Worship’ dan ‘Iman’, maka saya tergerak untuk menyampaikan satu dari sekian banyak kasih penyertaan ALLAH di dalam kehidupan berkeluarga. Kesaksian hidup ini saya beri thema ‘bagaimana mengerti kehendak ALLAH di dalam kehidupan berkeluarga’.
Sebelumnya, perkenalkan nama saya Dimitri FU, saya telah di bimbing serta diberi makan rohani oleh GKT sejak tahun 1996. Saya mengenal GKT melalui istri saya Lindayanti yang sudah mengenal GKT jauh lebih lama.
Kesaksian ini bermula pada kwartal pertama tahun 2005 setelah kami mengetahui bahwa kami akan mempunyai anak ke-3. Sebagai informasi, kami sebelumnya berencana untuk mempunyai anak hanya 2 saja tanpa KB. Tapi memang manusia hanya bisa berencana dan Tuhan yang menentukan kehendak-NYA apa yang terbaik bagi anak-anak-NYA. Anak pertama kami Vladimir lahir 16 Maret 2002, anak ke-2 kami Valesca lahir 16 September 2004.
Dan sekitar Februari - Maret 2005, ada perubahan yang terjadi dalam tubuh istri saya secara biologis, dan setelah kami cek ke dokter, kami mendapat berita bahwa TUHAN memberi berkat melalui kehadiran seorang anak lagi yang akan hadir di dalam keluarga kami.
Setelah mengetahui kabar ini, saya langsung berlutut menyerahkan semuanya ini serta bertanya apa yang menjadi kehendak NYA dalam situasi ini. Dan jawaban yang saya terima adalah ‘cerita kejatuhan manusia’, yaitu kembali kepada rumus awal sebuah rumah tangga. Laki- laki bertanggung jawab bekerja mencari nafkah untuk keluarganya, perempuan bertanggung jawab mengatur rumah tangganya.
Juga masalah financial, saya sampaikan kepada-NYA, karena selama ini financial keluarga ini ditopang oleh kami berdua bekerja. Kalau istri saya di rumah maka financial keluarga ini pasti akan berubah. Jawaban yang saya terima dari-NYA adalah saya mesti up grade kualitas saya dengan bersekolah lagi dengan strata yang lebih tinggi.
Setelah saya mendapat gambaran seperti ini, saya langsung inform berita ini kepada istri saya. Lalu saya cerita kepada Pdt Markus untuk minta bantuan doa dalam menghadapi & menyelesaikan permasalahan hidup rumah tangga yang saya hadapi.
Kesimpulan secara singkatnya adalah saya sebagai kepala rumah tangga harus bertanggung jawab menafkahi keluarga secara financial dengan cara mengupgrade strata pendidikan saya supaya bisa mendapatkan pekerjaan dengan tanggung jawab yang lebih besar sehingga mampu mencukupi kebutuhan financial keluarga, dan istri saya berhenti dari pekerjaannya lalu bertanggung jawab mengatur rumah tangga sehingga mampu mendampingi anak-anak dalam pertumbuhannya.
Ini adalah bentuk pelaksanaan iman. Mampu melihat apa yang belum terjadi serta taat menjalankan apa yang menjadi kehendak-NYA sehingga kita meraih apa yang DIA rencanakan dalam kehidupan ini.
Hal yang tidak mudah untuk dilakukan adalah:
A. Bagaimana saya mesti memberitahu kepada istri saya di saat karirnya sedang maju:
Tahun 2004 istri saya di tawari suatu posisi dalam pekerjaannya untuk bertanggung jawab pada sebuah kantor cabang pembantu. tahun 2005 awal dia mendapat kesempatan dari perusahaan dimana dia bekerja untuk meneruskan ke jenjang specialis auditor.
B. Posisi & kondisi saya sebagai suami:
background education saya yang notabene sebagai engineer harus mampu mengikuti perkuliahan management yang notabene tidak pernah saya dapati waktu di strata 1, seperti mata kuliah ekonomi, akuntansi, finance dan lain sebagainya. tugas tanggung jawab pekerjaan yang saya jalani bukan hanya pada 1 pekerjaan tapi beberapa bidang tanggung jawab.
Tetapi dengan kejadian serta permasalahan yang ada di dalam rumah tangga, kami mau kehendak-NYA yang jadi, akhirnya kami mau mengikuti ‘rumus’ kehidupan keluarga dalam Kejadian 3 (kejatuhan manusia).
Dalam menghadapi permasalahan yang ada dan pada saat kami menyerahkan semua ini kepada-NYA, bukan secara kebetulan, perusahaan di mana istri saya bekerja melakukan program pension dini bagi karyawan dengan spesifikasi tertentu. Karena prestasi (karir) yang dicapai oleh istri saya di dalam pekerjaannya, sebenarnya program ini tidak diperuntukkan bagi istri saya menurut syarat & kondisi administratif.
Lalu kami kembali berdoa kepada Bapa di Surga serta menyerahkan semua ini kepada-NYA, karena kami yakin di dalam TUHAN tidak ada yang kebetulan. Kembali kami minta bantu doa masalah ini kepada Pdt Markus.
Lalu kami ajukan keikutsertaan program pension dini ini kepada pihak manajemen perusahaan dimana istri saya bekerja. Dan doa kami dijawab: keikutsertaan dalam program pension dini disetujui.
Sambil kami menunggu terlaksananya pencairan dana pension, saya mencari informasi untuk rencana pendidikan saya ke jenjang strata 2. Dari data yang ada, saya bawa lagi dalam doa, program manakah yang seturut kehendak TUHAN. Baik dari segi biaya, lokasi, serta kualitasnya. Tuhan memberi kami jawaban, ternyata sekolahnya berlokasi di seberang lokasi kantor saya (di jalan Sudirman).
Dalam masa menunggu program pension dini dan waktu membayar sekolah, iman kami diuji, benarkah ini kehendak ALLAH atau bukan, karena ada rumors bahwa program tersebut diundur untuk waktu yang belum ditentukan. Tapi karena kami percaya dan bertekun dalam doa maka kami bisa melihat bahwa itu memang kehendakNYA. Dan semua terjadi ‘on time’sesuai dengan waktu NYA. DIA tidak pernah meleset dalam menolong.
Satu cobaan yang sempat muncul dalam berkomitmen untuk tetap menentukan menjalani kehendak-NYA atau menuruti kata hati dalam hidup kami. Satu tawaran pekerjaan dari perusahaan fast moving consumer good paling wahid di negri ini yang cukup menggiurkan datang kepada saya satu bulan sebelum saya menjalani pendidikan strata 2.
Tawaran yang datang adalah posisi untuk memegang branch di Bali, dan general manager yang meng-interview saya minta supaya saya mendiskusikan hal tersebut dengan istri saya, kalau okay tinggal inform balik dan semuanya sudah tersedia (rumah full furnish, kendaraan yang bahkan pada saat itu sudah disebutkan type & jenisnya). Begitu juga masalah financial saya sudah pasti tercover, dan mereka minta saya mulai bekerja per 1 Agustus 2005. Jadwal perkuliahan yang direncanakan adalah tanggal 8 Agustus 2005. Lalu kami kembali berdoa serta menyerahkan masalah ini kepada-NYA supaya kami tetap dikuatkan dengan komitmen bahwa saya tetap akan menjalani pendidikan terlebih dahulu.
Akhirnya per tanggal 1 Agustus 2005 istri saya resmi berhenti bekerja dan saya bekerja memenuhi kebutuhan financial sendiri ditambah uang pension.
Setelah permasalahan di atas saya anggap terselesaiakan, di bulan Januari 2006 muncul permasalahan baru lagi. Anak saya yang pertama mulai masuk sekolah dan kami sedang mencari sekolah. Sebagai informasi, kami tinggal di daerah Lippo Karawaci Tangerang. Kami mulai mencoba melakukan komparasi terhadap sekolah di sekitar complex.
Kembali saya berdoa untuk menyerahkan masalah ini kepada- NYA. Setelah saya berdoa saya inform ke istri saya, "Kita akan sekolahkan Vladimir di complex Lippo Karawaci. Kalau Vladimir di test lulus, maka TUHAN tidak akan tinggal diam dalam kelangsungan pendidikan Vladimir, tapi kalau Vladimir tidak lulus test kita akan tanya lagi kepada TUHAN di mana Vladimir mesti sekolah." Alhasil hasil test Vladimir sangat memuaskan.
Dan setelah Vladimir tahu bahwa dia lulus, di perjalanan Vladimir berbicara kepada saya, "Pa, kalau saya sekolah nanti saya mau naik mobil ini" (satu-satunya kendaraan yang kami miliki pada saat itu). Lalu saya jawab "Okay, nanti kita berdoa minta sama TUHAN supaya pas kamu sekolah, papa juga dapat mobil lagi untuk kerja."Hal ini pun kami amin-kan bakal terjadi dalam kehidupan kami nantinya.
Pada bulan yang sama pula, Januari 2006, saya mendapatkan kembali tawaran yang menggiurkan dari perusahaan asing yang cukup besar, dengan penempatan di Indonesia bagian Timur, bahkan sempat didiskusikan benefitnya, bahwa nanti kalau cuti tidak usah balik ke Jakarta, lebih baik ke Sidney karena biayanya jauh lebih murah. Kembali kami berdoa kepada-NYA minta untuk tetap dikuatkan dalam komitmen study.
Dalam pergumulan study saya pun cukup berat, bahkan saya sempat nangis dan minta TUHAN mampukan saya menjalani semua ini. Pagi jam 08.00‐ 17.00 saya punya tanggung jawab di pekerjaan, malam 18.30‐21.00 atau 22.00 saya menjalani study saya, sampai rumah sekitar 45 menit (rata-rata tiba di rumah pkl. 22.45). Belum lagi saya mesti bebenah diri, belum lagi saya mesti mengerjakan tugas pekerjaan serta tugas study, belum lagi saya mesti belajar. Dan alhasil setiap hari saya tidur pukul 00.00 atau maximum pkl 01.00 pagi. Bangun pukul 05.00 saya siapkan waktu sekitar 30 menit untuk bertanya kepada TUHAN apa yang mesti saya lakukan hari ini dan meminta pertolongan-NYA yang saya butuhkan dalam menjalani hidup hari ini.
Hal ini sudah saya jalani selama 1 tahun ini. Dan saya sudah mempunyai komitmen untuk menjalani apa yang seharusnya saya jalani sekalipun itu berat dan seolah tidak mampu. Tapi saya punya TUHAN YESUS yang memampukan menjalani semua ini.
Dan dengan bangga saya sampaikan di sini bahwa IPK saya semester 1 adalah 3,39 dan setelah semester 2 naik menjadi 3,53. Dan hal yang saya anggap masuk dalam rencana-NYA dan bukan hal kebetulan adalah di periode saya, bagi mahasiswa yang sudah mempunyai bahan thesis boleh mengajukannya di semester 2 dan menyelesaikannya di semester 3. Dengan peraturan yang ada, saya lebih terdorong untuk menyelesaikan study tepat waktu dalam waktu 3 semester.
Akhirnya, di akhir semester 2, saya mengajukan proposal thesis dan di setujui oleh pimpinan bidang study. Dalam waktu libur setelah perkuliahan semester 2 bulan kemarin (Juni‐Juli), saya mampu menyelesaikan penulisan thesis sampai dengan bab 4 (pengambilan data + analisa data). Dan karena saya masih ada mata kuliah yang mesti saya selesaikan pada semester 3, setelah ujian akhir di Desember nanti, saya berencana akan maju sidang thesis.
Pada bulan Mei 2005 yang lalu saya mendapatkan kembali 2 tawaran pekerjaan di lokasi Jakarta yang tidak akan mengganggu study saya. Dua perusahaan lokal bersekala nasional, 1 perusahaan fast moving consumer goods berlokasi di Bekasi dengan total karyawan 8,000 orang di seluruh Indonesia serta 1 perusahaan farmasi berlokasi di Jakarta Barat dengan total karyawan 3,000 orang di seluruh Indonesia.
Kembali kami menyerahkan hal tersebut kepada Bapa di Sorga. Bahkan di saat-saat yang kritis kami harus memilih, kembali kami menghubungi Pdt. Markus untuk bantu dalam doa. Di saat yang bersamaan, pada saat itu doa 10 hari di laksanakan di GKT, saya yang walaupun tahun ini tidak bisa hadir 10 hari berturut-turut dikarenakan waktu ujian akhir semester 2, saya tetap menyerahkan permasalahan ini di saat setiap kali saya datang mengikuti doa 10 hari.
Akhirnya kami mendapat jawaban gambaran cerita ‘Abraham’. Yaitu cerita tentang: pada saat para pekerja Abraham berselisih dengan para pekerja Lot, mengenai lahan untuk pakan ternak mereka. Cerita inilah yang mendasari keputusan saya untuk memilih perusahaan farmasi dengan total karyawan yang lebih sedikit.
Alhasil, pada saat saya mau menandatangani perjanjian kerja, pihak perusahaan menyatakan bahwa posisi yang ditawarkan pertama kali sebagai HRD Manager diubah menjadi assistant GM, dan inilah yang tertera di surat perjanjian kerja. Apa yang tidak pernah kami pikirkan sebagai seorang GM, TUHAN berikan kepada kami sebuah kepercayaan yang terbaik yang tidak pernah kami pikirkan. Dan hal ini tepat terjadi pada saat anak saya juga masuk sekolah.
Anak saya mulai sekolah tanggal 31 Juli 2006, sedangkan saya mulai bekerja di tempat yang baru tanggal 1 Agustus 2006. Tepat pada saat Vladimir sekolah dengan menggunakan kendaraan yang kami miliki, begitu juga saya mendapatkan kendaraan lain dari tempat pekerjaan saya yang baru.
Kesimpulan secara singkat:
Melalui tulisan ini (praise & worship), saya ingin menyaksikan bagaimana TUHAN bertahta serta berkarya dalam kehidupan berkeluarga kami.
Seorang laki-laki harus mampu menjadi imam bagi keluarganya dan memberikan direction kepada keluarganya supaya mengerti apa yang harus dilakukan, karena komunikasi yang dibangun bersama-NYA, dan dia harus mentransfer imannya kepada keluarganya. Bagaimana menjalani hidup berkeluarga dengan iman serta mengerti kehendak-NYA.
Bagaimana kami mengerti apa yang menjadi berkat dan apa yang TUHAN sudah sediakan bagi kami di masa yang akan datang. Saya panggil istri saya yang sedang berkarir dalam pekerjannya supaya berhenti dan mengurus rumah tangga. Bagaimana saya harus berkomitmen menjalani pendidikan strata 2 yang notabene berbeda sama sekali dengan latar belakang pendidikan strata 1 saya. Tetap pada komitmen walaupun ada tawaran yang seolah sudah menjadi jawaban kebutuhan secara financial. Ditambah lagi saya harus tetap bekerja dengan tanggung jawab yang tidak sedikit serta waktu untuk keluarga tinggal sabtu dan minggu, karena saya bangun + berangkat kerja hanya melihat anak-anak saya masih tidur, begitu pula pada saat saya pulang study, anak-anak saya sudah tidur, tapi merekalah yang menjadi kekuatan saya dalam menjalani kehidupan ini untuk meraih apa yang menjadi berkat bagi keluarga, tentunya atas Kehendak NYA.
Sampai akhirnya Allah berikan semua berkat yang sudah di rencanakan bagi keluarga kami, bahkan lebih dari yang kami pikirkan dan yang menjadi kebutuhan kami tepat pada waktu NYA. Tidak pernah DIA rencanakan meleset. Bahkan apa yang DIA berikan lebih dari apa yang kami pikirkan, DIA berikan apa yang tidak pernah kami pikirkan dan kami tahu DIA beri yang terbaik dalam kehidupan ini.
Tapi semua itu tentu ada syarat & kondisi serta harga yang harus kami bayar. Kami tidak mendapatkan itu semua dengan duduk-duduk, dan kami mendapatkan itu semua tidak hanya dengan berdoa. Kami mendapatkan itu semua dengan doa serta menjalani kehendak-NYA (action). Yaitu dengan mendengarkan Firman-NYA, tanamkan dalam hati sehingga jika ada masalah yang datang menghadang, DIA sendiri yang akan memberikan jawaban serta jalan keluar melalui Firman-NYA, berdoa minta kekuatan untuk menjalani kehendak-NYA, lalu melakukan kehendak-NYA dalam kehidupan sehari-hari dengan kekuatan yang berasal dari pada-NYA.
Selalu lakukan hubungan dengan NYA lewat doa. Niscaya DIA akan berkarya dalam kehidupan ini bahkan DIA mampu memberi tahu apa yang akan terjadi dalam hidup ini di kemudian hari, sehingga DIA akan mengarahkan kita pada berkat yang telah DIA sediakan bagi kita. Setiap hari saya selalu bangun subuh dan langsung berdialog dengan Allah serta bertanya apa yang harus saya lakukan hari ini dan membiarkan DIA berbicara memberi tahu kehendak-NYA, lalu minta kekuatan untuk menghadapi hari ini dan menyerahkan hidup hari ini sepenuhnya dalam tangan-NYA. Tidak lupa minta ampun atas segala kesalahan yang sudah kita perbuat hari sebelumnya baik sadar atau tidak.
Mengucap syukur atas segala yang terjadi di dalam hidup ini baik dalam situasi yang menyenangkan ataupun yang tidak menyenangkan serta menunggu ALLAH menyelesaikan setiap permasalahan kita. Saya selalu mengakui bahwa saya itu nothing’di hadapan ALLAH, tapi hanya oleh kasih karunia-NYA saja sehingga kita bias jadi seperti ini. Rendahkan diri.
Tugas saya hanya menyampaikan kesaksian ini, biarlah ALLAH sendiri yang akan berkarya di dalam kehidupan saudara dalam membaca tulisan ini.
Selamat mencoba dan buktikan serta rasakan betapa baiknya TUHAN itu. (Dimitri FU)
* * * * *
Suami --> Lalu firman-Nya kepada manusia itu: "Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu." (Kejadian 3:17-19)
Istri --> Firman-Nya kepada perempuan itu: "Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu." (Kejadian 3:16)
DI SURGA NANTI
"Di surga nanti kita pakai baju putih .. Atas kepala bermahkota mas. Haleluya Puji Tuhan .. Kekal selamanya .."
25 MARET 2013 - Kira-kira lagu itulah yang saya ingat saat ini ketika baru bangun dari mimpi. Saya dibawa melihat salah satu kegiatan yang kita akan lakukan di surga nanti.
Saya beryukur dibawa kembali ke surga subuh tadi. Kini cukup lama saya berada di sana. Di kesempatan sebelumnya hanya beberapa detik saja saya di sana. Kali ini Tuhan memberikan permainan yang begitu menyenangkan. Dan saat ini pun kita dapat melakukannya selama masih di bumi ini.
Nama permainannya mungkin adalah menjadi malaikat Tuhan. Tujuannya menolong orang-orang berdosa supaya tidak lagi berbuat dosa atau membatalkan niatnya dalam berbuat dosa.
Supaya tambah seru permainannya, kita berlomba dengan anak-anak Tuhan lainnya. Di tempat permainan saya ada sekitar 3 orang.
Tidak hanya itu, supaya lebih menarik Tuhan memberikan tugas yang berbeda-beda tergantung skill atau kemampuan kita saat masih di dunia dan diundi pula tugasnya atau misinya.
Saya mencoba 3 kali permainan seperti ini. Yang pertama saya dikirim untuk membuat bertobat seseorang yang amat suka berbelanja.
Orang itu luar biasa kaya. Tetapi dia hanya peduli sama dirinya sendiri. Tugas saya untuk mengingatkannya supaya memberi kepada sesamanya manusia. Karena saya belum mengerti harus bagaimana bertindak atau cara bermainnya. Akhirnya saya hanya diam saja dan orang itu masuk neraka. Saya pun dimasukan ke neraka juga.
Wah spontan rasa sakit membakar tubuh saya. Jauh tak terbayangkan sakitnya dibandingkan sakit sendi dan tulang belakang yang saya alami saat ini.
Tetapi Tuhan langsung berkata : "Kalau misimu gagal dan ke neraka. Langsung bilang Tuhan tolong aku atau keluar. Maka akan kembali ke surga".
Dan saya pun spontan ngomong, "Tuhan tolong maafkan saya karena gagal". Tiba-tiba ada cahaya damai sejahtera di sekeliling saya dan api itu pun tidak dapat membakar saya. Tiba-tiba saya berpindah kembali ke surga.
Ketika di surga teman bermain saya nanya "berhasil nggak?" Saya malu dan jawab, "Nggak berhasil". Ternyata yang lain pun sama saja. Tidak berhasil juga dalam misi menolong orang.
Permainan dilanjutkan kembali ... Kali ini yang kedua saya ketemu sama penjudi. Tugasnya simpel membuat dia berhenti berjudi.
O iya, saya lupa memberitahu saat kita bermain game seperti ini kita bisa memilih jadi sosok yang tak terlihat (malaikat) ataupun menjadi sosok yang dapat dilihat (manusia) oleh target kita.
Yang pertama dan kedua saya menjadi sosok yang dapat dilihat oleh target atau menjadi manusia. Di yang kedua saya mencoba menjadi temannya.
Di saat saya lagi tidur di dalam misi itu. Uang dan segala tabungan serta harta benda saya dicuri sama target saya. Wah pas bangun kaget dan tiba-tiba si target datang nangis-nangis karena dia kalah judi lagi dan lagi dicari-cari orang yang mau menagih hutang dia.
Dan singkat cerita akhirnya target saya itu disiksa sampai mati oleh para penagih hutang lalu target saya itu dimasukan ke neraka. Dan karena saya gagal. Saya pun masuk neraka.
Tapi kali ini sudah tidak takut, karena sudah tahu bahwa Tuhan melindungiku sehingga api neraka pun tak dapat menyakitiku. Lalu saya berkata "keluar". Dan saya kembali ke surga lagi.
Langsung lanjut ke permainan selanjutnya. Saya diberi misi untuk membuat bertobat seorang PSK. Wah pas tiba di lokasi permainan yang merupakan warung remang-remang. Kalang kabut saya. Sebab saya nggak mau gagal lagi dan saya bingung harus bagaimana caranya membuat si target bertobat.
Saya kali ini menjadi sosok yang tak dapat dilihat. Saya mencoba membuat takut si target dengan mengoyang-goyangkan kursi di depan dia. Sampai si target ngomong sama pemilik warung, "Kursinya goyang-goyang ya?". Kata pemilik warung, "Lue udah mabok. Makanya terlihat goyang-goyang sendiri".
Terus saya mencoba menjauhkan botol alkoholnya dia, supaya dia tidak minum alkoholnya lagi. Tapi dia tetap mencari dan mengambilnya. Dan merasa bahwa dirinya sudah mabok sehingga tak tahu bahwa botol alkoholnya sayalah yang memindahkannya.
Tidak lama kemudian ada anak muda yang mencari dia. Saya pun langsung mencoba mentoel dia dan berkata dalam hati nuraninya, "Jangan lakukan ini. Ini adalah tindakan berdosa. Bertobatlah. Masih belum terlambat".
Tetapi target saya menghiraukan hati nuraninya. Dan anak muda tadi mengajaknya masuk kamar. Singkat cerita target saya dibunuh oleh pemuda itu. Dan tentu saja target saya langsung berada di neraka, begitu juga saya.
Saya pun kembali berkata : "keluar", dan saya kembali ke surga. Wah saat di surga saya malu sekali. Sebab gagal 3 kali berturut-turut. Tetapi Tuhan berkata, "Begitulah pada akhirnya semua pilihan kembali kepada manusia itu. Sehingga jika mereka masuk neraka janganlah mempersalahkan Tuhan. Sebab Tuhan sudah sering kali mencoba mengingatkan untuk bertobat."
Lalu saya dan teman bermain lainnya tidak sabar tugas berikutnya. Tetapi Tuhan bilang, "Nanti saja kita lanjutkan permainan ini. Kita coba permainan yang baru."
Kemudian Tuhan melihat ke arahku dan berkata kepadaku, "Kembalilah ke dunia, dan beritahukan teman-temanmu bahwa di surga adalah tempat yang menyenangkan. Dan permainan yang seperti tadi dapat kamu dan teman-temanmu lakukan selama masih di dunia."
Lalu saya pun terbangun dan berada di atas ranjang saya. Setelah berdoa, saya langsung menuliskannya. Dan saya kirimkan.
Kalau yang tidak percaya cerita di atas, tidak apa-apa. Tetapi satu hal yang pasti, "Surga adalah tempat yang sangat menyenangkan. Jangan takut, di surga nanti ada hal yang jauh lebih menarik dibanding yang ada di dunia ini."
Semoga tulisan saya ini menjadi berkat pada setiap orang yang membacanya. (DedyYanuar)
* * * * *
Sebenarnya apa yang dahulu dianggap mulia, jika dibandingkan dengan kemuliaan yang mengatasi segala sesuatu ini, sama sekali tidak mempunyai arti. (2 Korintus 3:10)
SERBA INSTANT ATAU CEPAT
Mulai dari beberapa dekade yang lalu banyak sekali kita temui makanan maupun minuman yang instan. Bahkan saat ini sudah tak dapat dihitung jenis makanan maupun jenis minuman yang terdapat di pasaran.
Karena zaman sekarang, kita dituntut serba cepat, sehingga mungkin sebagian dari kita juga merasakan kejenuhan dalam beraktivitas. Seperti sekolah, kuliah maupun bekerja.
Begitupun dengan ibadah di dalam gereja. Saat ini banyak dari kita (saya pun pernah) mengalami rasanya ingin ibadah yang cepat dan tepat waktu. Baik waktu mulai dan waktu selesainya.
Di gereja saya beribadah terkadang ada yang bersaksi setelah Firman Tuhan. Terkadang kalau yang bersaksi itu adalah orang yang membosankan atau lebih seperti orang curhat daripada bersaksi, sehingga waktu ibadahnya jadi semakin lama. Tidak sedikit orang akan meninggalkan ibadah yang masih berlangsung itu.
Ya itu memang hak mereka. Mau pulang sebelum ibadah selesai, atau pulang setelah ibadah selesai itu adalah hak mereka.
Tetapi lama kelamaan setelah saya merasakan sendiri dan melihat kejadian ini. Saya melihat adanya tanda-tanda bahwa yang saya lakukan itu hanyalah sekedar rutinitas saja. Datang ke gereja, melayani, memberikan persembahan, mendengarkan khotbah, lalu ingin segera cepat-cepat pulang. Dan pada akhirnya berkat dan damai sejahtera dari Tuhan pun terasa hambar.
Saya pribadi bersyukur kepada Tuhan karena mengingatkan hal ini, yaitu supaya ketika kita pergi beribadah, marilah kita menikmatinya. Entah akan berapa lama ibadah itu akan berlangsung, marilah kita menikmatinya.
Berilah waktu dan ruang untuk Tuhan di dalam kehidupan kita. Sebab beribadah itu adalah salah satu saat dimana kita bersekutu dengan Tuhan. Beribadah itu adalah saat dimana kita ingin menyenangkan hati Kekasih kita yaitu Tuhan Yesus.
Begitupun dengan berdoa dan bersaat teduh. Marilah kita memberikan waktu sebanyak yang kita bisa untuk Kekasih kita, Tuhan Yesus.
Kiranya damai sejahtera dan berkat dari Allah Bapa, dan Anak-Nya yang Tunggal serta Roh Kudus menyertai kita sampai selama-lamanya. Amin
Selamat beribadah kepada Tuhan. (DedyYanuar)
* * * * *
"Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik." (Mazmur 84:11)
Langganan:
Postingan (Atom)