Sabtu, 16 Maret 2013

Warisan Pengampunan


Lima puluh tahun yang lalu lima orang misionaris muda dibantai oleh suku India Waodani (juga dikenali sebagai suku Auca) di pendaratan pertama mereka di pemukiman suku terpencil itu di hutan Ekuador. Mereka yang ditombak mati adalah Nate Saint, Jim Elliot, Pete Fleming, Ed McCully and Roger Youderian. Para misionaris muda ini rata-rata berumur di bawah 35 tahun pada saat nyawa mereka dihabisi dengan kejam. Pembantaian mereka menimbulkan efek yang sangat dramatis. Foto-foto yang penuh sensasi tentang pembantaian itu menghiasi majalah Life dan Time. Lima puluh tahun kemudian mungkin banyak yang tidak mengetahui peristiwa ini. Namun saya kira pasti banyak yang tertarik untuk mengetahui apakah yang menjadi buah dari pengorbanan mereka. Karena janji firman Tuhan, setiap benih yang jatuh dan mati pasti akan menghasilkan banyak buah. (Yohanes 12:24-25)
Bagi yang berminat untuk mengetahui secara rinci dapat membaca buku "End of Spear" (Ujung Tombak), buku yang baru terbit dan dikarang oleh Steven Saint, putra kepada salah satu korban, Nate Saint. Buku itu mengisahkan riwayat hidup ayahnya dan efek penebusan dari tragedi tersebut. Steve baru berusia 5 tahun saat ayahnya dibunuh.
Para peminat filem kungfu Cina atau filem silat, pasti akrab dengan plot cerita yang kebanyakannya mengisahkan pembunuhan tragis sang hero yang akan mengakibatkan permusuhan yang tiada akhirnya. Demi mempertahankan kehormatan dan menuntut keadilan, keluarga korban pasti akan saling membunuh untuk membalas dendam dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Istilah pengampunan tidak pernah terlintas di benak mereka. Kalau dilihat dari sudut pandang dunia, pembunuhan para misionaris itu juga seharusnya dibalas, mungkin tidak dengan prinsip mata ganti mata, tetapi minimal, pemikiran yang muncul adalah orang-orang barbar ini sangat tidak layak untuk menerima Injil. Janganlah menyia-yiakan waktu mendatangi mereka lagi. Mereka tidak layak, tidak tahu menghargai.
Tetapi cara pandang Tuhan dan anak-anak-Nya sangatlah berbeda. Landasan utama iman Kristiani adalah pengampunan dan perdamaian. Steve menceritakan bahwa setelah ayah dan teman-temannya mati, ibunya terus mendoakan orang-orang yang telah membunuh mereka. Tidak lama setelah pembantaian kejam itu, tante Steve, Rachel Saint, bersama dengan salah satu janda korban Elisabeth Elliot menghabiskan banyak tahun tinggal bersama suku Waodani untuk menyelesaikan pekerjaan yang telah dimulai oleh kelima misionaris itu.
Saat diwawancara baru-baru ini Steve berkata, "Saya memiliki warisan pengampunan dari orang tua saya, dari keempat janda yang lain dan juga dari suku Waodani itu sendiri. Ia melanjutkan, "Itu tidak berarti saya tidak merasa kehilangan - rasa sakit akibat kehilangan ayah sangatlah pedih. Tetapi karena ibu saya terus mendoakan mereka, di saat saya menemui mereka, saya tidak memikirkan mereka sebagai orang yang telah membunuh ayah saya, tetapi sebagai orang yang paling spesial di dunia ini." Liburan sekolahnya sering dihabiskan bersama tantenya melayani suku Waodani ini. Dan setelah tantenya meninggal pada tahun 1994, Steve bersama keluarganya pindah dan tinggal di antara suku Waodani selama satu setengah tahun. Mungkin hal yang paling ajaib adalah salah satu orang yang bertanggungjawab atas kematian ayahnya, Mincaye, sekarang merupakan kawan akrabnya and anak-anaknya menganggap Mincaye seperti kakek mereka sendiri. Kelima misionaris itu dibunuh oleh 6 orang, dan tiga dari mereka yang masih hidup melayani sebagai penatua di gereja.
Pada tahun 2001, mungkin ada yang masih ingat tentang sepasang suami istri, Gracia dan Martin Burnham yang disandera oleh kelompok militan di Selatan Filipina. Mereka adalah misionaris dari Amerika yang diutus oleh New Tribes Mission. Dalam operasi militer yang dilakukan oleh pemerintah Filipina untuk menyelamatkan mereka, Martin terbunuh dan Gracia berhasil diselamatkan. Beberapa tahun setelah itu Steve sempat bertemu dengan Gracia dan anak-anaknya yang sekarang harus dengan tabah melanjutkan kehidupan tanpa ayah yang sangat mereka kasihi. Gracia meminta Steve untuk berbicara kepada anak-anaknya. Steve yang pernah mengalami hal yang sama memberitahu mereka, "Hidup kita akan mempunyai bab-bab yang susah, tetapi biarlah Tuhan yang menulis ceritanya, dan janganlah menghakimi sebelum kita membaca bab yang terakhir." Kita tidak tahu apa yang akan Tuhan lakukan atau apa yang telah Tuhan rencanakan bagi kita. Lewat kematian kelima misionaris itu Tuhan dapat bekerja secara luar biasa entah di dalam hidup keluarga korban maupun di suku Waodani itu sendiri. Namun hal ini tidak akan terjadi jika keluarga korban tidak mengikuti jejak Yesus dengan mengampuni dan mengalahkan kejahatan dengan kebaikan.. Tidak ada perdamaian tanpa pengampunan, dan pengampunanlah yang justru telah menyelamatkan mereka dari kepahitan.
Di sisi lain, mungkin akan ada orang yang berpendapat, tidakkah harga yang harus dibayar oleh kelima misionaris itu terlalu tinggi? Menurut pemikiran Steve, kelima misionaris itu tidaklah merasakan bahwa harga yang mereka bayar itu terlalu tinggi. Bagi mereka, apa yang mereka lakukan itu, yaitu menjangkau suku yang terpencil yang belum pernah mendengar Injil adalah tugas yang sangat penting, dan resikonya memang layak ditanggung, sekalipun mereka harus meresikokan nyawa mereka.
Bagaimana dengan kita?

Bagaimana Meminta Pemulihan dari Allah?


Rick Warren
Hampir 3,000 tahun yang lalu Allah membuat janji kepada Raja Salomo, yang juga berlaku bagi kita di zaman ini. Di zaman di mana kita telah menjadi semakin sekuler and duniawi, meskipun kita mengaku sebagai umat-Nya.
Allah berkata, "Dan jika umat-Ku yang atas nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku serta berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku, aku akan mendengar dari surga dan akan mengampuni dosa mereka serta memulihkan negeri mereka." (2 Tawarikh 7:14).
Apa yang dapat memulihkan kita?
Kita harus melakukan empat hal yang Allah katakan kepada Salomo dan bangsa Israel.
Jangan pernah lupa kepada siapa Allah sedang berbicara di sini. Dia sedang berbicara kepada umat-Nya - bangsa Israel.
Allah mau memulihkan umat-Nya di zaman ini juga. Hal ini harus dimulai dari gereja. Hal ini harus dimulai dari para Pemimpin gereja, dari setiap Jemaat-Nya. Allah sedang meminta kita untuk melakukan empat hal.
  1. Kita harus membuat pengakuan dosa dengan kerendahan hati.
    Pertama, Allah berkata, "Jika umat-Ku akan merendahkan diri...Aku akan memulihkan negeri mereka."

    Sebagai Pemimpin, kita harus merendahkan diri dan memimpin Jemaat kita untuk melakukan hal  yang sama. Sumber segala permasalahan kita adalah kesombongan. Kita pikir kita lebih tahu ketimbang Allah tentang hal apa saja yang akan membuat kita bahagia. Keangkuhanlah yang membuat orang terpisah dari Allah di tingkat pribadi, di tingkat Jemaat, dan di tingkat nasional. Keangkuhan masuk ke dalam hidup kita dan kita lupa bahwa kita membutuhkan Allah. Saat kita sombong, kita tidak mengakui keberdosaan kita, kekeliruan kita, dan kegagalan kita.

    Kita tidak akan pernah menemukan pemulihan pribadi maupun di tingkat nasional jika kita coba untuk menyembunyikan dosa-dosa kita dari Allah. Menyembunyikan dosa-dosa kita adalah keterbalikan dari kerendahan hati dan Allah tidak akan memberkati hal itu.

    Sekali lagi, hal ini bermula dengan Anda dan saya. Kita harus berlaku jujur dan memberitahu Allah bahwa kita telah gagal. Kita perlu untuk memimpin Jemaat kita ke dalam pertobatan juga. Umat Allah harus mengakui bahwa kita telah berpaling dari Dia.
  2. Kita harus berdoa dalam ketekunan.
    Hal kedua yang Allah beritahukan kepada Solomo adalah: "Jika umat aku...berdoa...aku akan memulihkan negeri mereka."

    Allah mau kita berdoa dan tidak menyerah. Ia mau kita berdoa dalam ketekunan. Kita pada dasarnya terlalu cepat menyerah. Itulah alasan mengapa kita tidak melihat jawaban kepada doa-doa kita. Itulah alasan mengapa tidak adalah pemulihan di antara kita sebagaimana yang disebutkan di dalam ayat ini.

    Saudara, biarlah saya menanyakan suatu pertanyaan yang sangat penting. Sejauh manakah Anda dan gereja Anda peduli tentang pemulihan dan kebangkitan rohani? Sejauh manakah Anda serius tentang pemulihan di dalam gereja Anda dan di dalam hidup Anda? Ketekunan Anda dalam kehidupan doa Anda akan menunjukkan sejauh mana Anda serius dalam hal ini.

    Bagaimana Anda menunjukkan ketekunan Anda? Buatlah satu daftar doa - dan pastikan Anda berdoa untuk negeri-mu. Apa yang tidak Anda daftarkan, Anda akan lupa saat berdoa.
  3. Kita harus mencari Allah dengan penuh intensitas
    Ketiga, Allah berkata, "Jika umat-Ku....mencari wajah-Ku... Aku akan memulihkan negeri mereka."

    Allah ingin kita mencari Dia. Ini bukan sesuatu yang kita lakukan di waktu luang kita. Anda tidak hanya mencari Allah di saat Anda ada waktu luang. Pencarian akan Allah harus mencari fokus kita yang utama. Allah tidak hanya ingin menjadi pengakuan (profession) kita. Ia mau menjadi kegairahan (passion) kita.

    Sangat sedikit orang yang sebenarnya mencari Allah dengan intens. Sangat, sangat langka. Kebanyakan orang hanya mau mengenal Allah cukup untuk memberkati mereka tetapi tidak sampai Allah menganggu mereka. Tetapi jika Allah mau memulihkan negeri kita, Jemaat kita harus dipenuhi oleh orang-orang yang sesungguhnya mencari Dia.

    Saya harap Anda sudah melakukan ini. Saya harap Anda sedang meluangkan waktu untuk mengenal Allah dengan lebih baik. Tugas Anda dapat disederhanakan sebagai yang berikut - membantu orang untuk mencari Allah. Tapi Ingatlah, hal ini harus bermula dengan Anda sendiri.
  4. Kita harus bertobat dengan ketulusan hati.
    Akhirnya, Allah berkata, "Jika umat-Ku...berbalik dari jalan-jalannya yang jahat...Aku akan memulihkan negeri mereka."

    Jika kita menginginkan pemulihan di dalam negeri, kita harus bertobat dengan ketulusan hati. Banyak orang yang salah memahami kata ini. Pertobatan adalah metanoia dalam bahasa Yunani. Meta berarti berbalik, berubah. Satu perubahan mutlak. Noia berarti akal budi atau pikiran. Secara harfiah, bertobat berarti berubah pikir, mengubah cara pikir Anda.

    Di saat kita bertobat, kita mengubah cara kita berpikir tentang diri kita dan tentang Allah. Kita mengubah cara kita berpikir tentang apa yang penting buat kita, orang lain, masa lampau kita, masa kini, dan masa depan kita. Bertobat pada dasarnya berarti berubah pikiran tentang sesuatu hal. Satu peralihan paradigma. Saya terbiasa berpikir di satu arah; sekarang saya berpikir secara berbeda.

    Dalam hal apa saja Anda perlu mengubah pemikiran Anda? Tentang hal apa, Jemaat Anda harus berubah pikiran? Pertobatan di tingkat Jemaat harus dimulai dengan pertobatan pribadi.

    Negeri kita sedang berada dalam masalah besar sekarang ini. Jika Allah mau menghakimi negeri kita, Dia harus bermula dengan kita. Dia akan bermula dengan umat-Nya. Pemulihan harus bermula dengan kita. Pemulihan tidak akan terjadi karena ada undang-undang baru. Pemulihan tidak akan terjadi karena kita memilih partai tertentu ke dalam pemerintahan. Pemulihan tidak akan terjadi di saat orang yang tidak mengenal Allah berbuat lebih baik. Allah akan memulihkan negeri kita di saat umat-Nya - Jemaat - mengakui dosa mereka, berdoa, mencari Dia dan bertobat.

    Pemulihan negeri kita harus bermula dengan Jemaat kita, atau ia tidak terjadi sama sekali.

    Akankah pemulihan bermula dari Jemaat Anda?

    Akankah pemulihan bermula dari diri Anda
(Ditulis ulang dan diedit seperlunya dari artikel Will God Heal America oleh Rick Warren)

Ciri orang yang menghayati doa


Henri Nouven
Hidup orang-orang yang menghayati doa sebagai satu-satunya yang perlu, menunjukkan bahwa tiga "peraturan" selalu ditaati; membaca sabda Allah secara kontemplatif, mendengarkan suara Allah dalam keheningan, taat mempercayakan diri kepada seorang pembimbing rohani. Tanpa Kitab Suci, tanpa saat hening dan tanpa seorang pun yang mengarahkan kita, maka jalan kita menuju kepada Allah sangat berat dan bahkan tidak mungkin.
Pertama-tama, kita harus sungguh-sungguh memperhatikan sabda Alalh sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci. Santo Augustinus bertobat waktu dia menanggapi apa yang dikatakan oleh seorang anak: "Ambil dan bacalah, ambil dan bacalah".

Waktu dia mengambil Kitab Suci dan mulai membacanya adalah hal pertama yang harus kita kerjakan untuk membuka diri kita kepada panggilan Allah. Membaca Kitab Suci tidaklah semudah seperti kelihatannya karena lingkungan akademis kita membuat kita cenderung untuk membuat apa saja dan semua saja yang kita baca sebagai bahan analisis dan diskusi. Tetapi sabda Allah pertama-tama harus membawa kita kepada kontemplasi dan meditasi. Kita meresapnya; bukannya memikirkan apakah kita setuju atau tidak, tetapi menemukan manakah sabda yang langsung disabdakan kepada kita dan menghubungkannya dengan sejarah hidup pribadi kita. Bukannya berpikir bahwa sabda Allah itu dapat menjadi bahan yang menarik untuk dialog atau makalah, tetapi bersedia untuk membiarkan sabda merasuk ke dalam sudut-sudut hati kita yang paling tersembunyi, ke tempat yang belum pernah disentuh oleh sabda-sabda apa pun yang lain. Kalau demikian, dan hanya kalau demikian, sabda dapat menghasilkan buah sebagaimana benih yang ditaburkan dalam tanah yang subur. Hanya kalau demikian kita sungguh-sungguh dapat "mendengar dan mengerti" (Mat. 13.23)
Kedua, kita membutuhkan saat hening di hadirat Allah. Meskipun kita mau menjadikan seluruh waktu kita waktu bagi Allah, kita tidak akan pernah berhasil kalau kita tidak menyisihkan barang satu menit, satu jam, satu pagi, satu hari, satu minggu, satu bulan atau beberapa waktu saja bagi Allah, hanya bagi Dia. Hal seperti ini menuntut displin yang tinggi dan mengandung resiko karena tampaknya kita selalu mempunyai seusatu yang lebih mendesak untuk dikerjakan.

Sekadar "duduk" dan "tidak mengerjakan apa-apa" sering kali lebih menganggu kita daripada melegakan kita. Tetapi tidak ada jalan lain. Menjadi "tidak berguna" dan diam di hadirat Allah kita, merupakan unsur hakiki dari segala doa. Pada mulanya kita sering mendengar suara batin kita sendiri yang tidak tenang lebih keras dari suara Allah. Kadang-kadang hal semacam ini sangat sulit untuk dapat ditahan. Tetapi sedikit demi sedikit, dengan sangat pelan, kita menemukan bahwa saat hening membuat kita hening pula dan memperdalam kesadaran kita akan diri kita sendiri dan akan Allah. 

Lalu dengan cepat kita akan merasa kehilangan kalau kita tidak dapat menyediakan saat hening ini, dan sebelum kita sadar sepenuhnya akan hal itu, suatu kerinduan batin tumbuh dalam diri kita. Kerinduan batin itu mendorong kita secara lebih kuat untuk masuk ke dalam keheningan dan membawa kita lebih dekat ke titik di mana Allah berbicara kepada kita.

Membaca Kitab Suci secara kontemplatif dan saat hening di hadirat Allah saling berhubungan erat sekali... Sabda Allah mendorong kita untuk masuk ke dalam keheningan; keheningan membuat kita siap  mendengarkan sabda Allah. Sabda Allah menembus masuk melewati tembok tebal kegaduhan bicara manusia ke dalam pusat hati kita yang hening; keheningan membuka suatu ruangan di mana sabda dapat didengarkan. 

Tanpa membaca, sabda keheningan menjadi beku, dan tanpa keheningan sabda kehilangan daya ciptanya. Sabda mengarahkan kita kepada keheningan dan keheningan kepada sabda. Sabda lahir dalam keheningan dan keheningan adalah jawaban yang paling mendalam bagi sabda.

Namun sabda dan keheningan keduanya membutuhkan bimbingan. Bagaimana kita tahu bahwa kita tidak menipu diri kita sendiri, bahwa kita tidak sedang  mengucapkan kata-kata yang paling cocok dengan perasaan hati kita, bahwa kita tidak sedang mendengarkan suara dari khayalan-khayalan kita sendiri? Banyak orang mengutip Kitab Suci dan banyak pula sudah mendengar suara dan melihat penglihatan dalam keheningan, tetapi hanya sedikit orang telah menemukan jalannya menuju Allah.
Siapa yang dapat menjadi hakim dalam perkaranya sendiri? Siapa dapat menentukan apakah perasaaan dan pandangannya membawanya ke arah yang benar? Allah kita adalah lebih besar daripada hati dan budi kita sendiri. Dan kita sangat mudah tergoda untuk menyamakan keinginan hati kita dan rekaan pikiran kita dengan kehendak Allah. 

Oleh karena itu kita membutuhkan seorang pendamping, seorang pembimbing, yang menolong kita untuk membedakan suara Allah dengan suara-suara yang lain yang muncul dari hiruk-pikuk hidup kita sendiri atau dari kekuatan gelap yang berada di luar kekuasaan kita. Kita membutuhkan seseorang yang mendukung kita kalau kita ingin berhenti, melupakan semuanya dan lari dalam keputusasaan. Kita membutuhkan seseorang yang mengerem kita kalau kita melangkah terlalu tergesa-gesa ke arah yang tidak jelas atau berlari dengan kepala mendongak ke tujuan yang kabur. Kita membutuhkan seseorang yang dapat  memberi usul kepada kita kapan kita sebaiknya membaca, sebaiknya hening, sabda mana yang harus kita renungkan dan apa yang harus kita lakukan kalau keheningan menjadi menakutkan bukannya mendatangkan damai.

Reaksi pertama dan yang bisa dalam hubungan dengan pembimbing rohani ialah: "Pembimbing rohani sulit didapatkan". Mungkin hal ini betul, tetapi sekurang-kurangnya sebagian dari alasan kurangnya pembimbing rohnai ialah bahwa kita sendiri tidak tampil dan memberikan kesan kepada orang lain sedemikian rupa sehingga penampilan kita dankesan yang kita berikan mengundang mereka untuk menjadi pemimpin rohani kita. Kalau tidak ada murid yang terus menerus menuntut guru yang baik, maka tidak akan pernah ada guru yang baik. 

Hal yang sama, benar pula untuk pembimbing rohani. Ada begitu banyak orang, pria dan wanita, yang mempunyai kepekaan rohani yang besar tetapi kemampuan mereka itu tetap terpendam karena kita tidak minta tolong kepada mereka. Banyak orang kiranya akan menjadi bijaksana dan suci bagi kita seandainya kita mengundang mereka untuk mendampingi kita dalam usaha kita menemukan doa batin kita.
Seorang pembimbing rohani tidak harus lebih pandai atau berpengalaman daripada kita.Yang penting ialah bahwa dia menerima undangan kita untuk membawa kita lebih dekat kepada Allah dan bersama-sama kita masuk ke dalam Kitab Suci dan keheningan di mana Allah berbicara baik kepada dia maupun kita. 

Dengan demikian, Kitab Suci, keheningan dan pembimbing rohani adalah tiga petunjuk penting daam rangka usaha kita menemukan jalan yang paling pribadi untuk masuk ke dalam hubungan yang mesra dengan Allah. Kalau kita merenungkan Kitab Suci terus menerus, menyediakan waktu untuk hening di hadirat Allah dan mau mempercayakan pengalaman-pengalaman kita dalam hal sabda dan kehenignan itu kepada seorang pembimbing rohani, kita dapat menjaga diri kita dari bahaya berkembangnya ilusi-ilusi yang baru dan membuka jalan menuju doa batin.

(Dikutip dari Menggapai Kematangan Hidup Rohani karya Henri JM Nouven)

Orang-orang Kristen itu


Elsie C

Lewat surat kepada Diognetus, seorang guru pribadi kepada Kaisar Marcus Aurelius (161-180M), yang merupakan salah satu dari lima Kaisar yang baik, kita mendapatkan gambaran yang bersumber dari tulisan di luar Alkitab tentang orang-orang Kristen yang hidup di gereja mula-mula. Suratnya ini diperkirakan ditulis di abad kedua.

"Orang-orang Kristen tidak dapat dibedakan dari orang lain dengan melihat pada asal usul mereka, bahasa atau budaya mereka; soalnya, mereka tidak tinggal di satu kota tersendiri, atau menggunakan bahasa mereka, atau memiliki gaya hidup yang aneh.

Ajaran mereka itu tidak disusun lewat penemuan atau spekulasi manusia; mereka tidak hanya sekadar menyebarkan ajaran manusia seperti orang lain. Mereka hidup di kota Yunani dan di kota asing. Mereka mengikuti budaya lokal dalam hal berpakaian, makanan dan aspek kehidupan yang lain. Tapi di waktu yang bersamaan, mereka menunjukkan kepada kita kerakyatan mereka yang indah dan tidak biasa.

Mereka tinggal di tanah kelahiran mereka, tapi sebagai orang asing; sebagai rakyat, mereka membagi semuanya dengan orang lain; tapi seperti orang asing mereka menderita banyak hal. Di tanah kelahiran mereka, mereka hidup bagaikan orang asing.

Mereka bernikah dan mempunyai anak seperti orang lain; tapi mereka tidak membunuh bayi yang tidak direncanakan. Mereka membagi meja makan tapi tidak membagi tempat tidur. Mereka hadir di dalam daging tapi tidak hidup menurut daging. Mereka melewati hari-hari mereka di bumi tapi mereka rakyat surgawi. Mereka menaati hukum dan bahkan  melampaui hukum di dalam kehidupan mereka.

Mereka mengasihi setiap orang, tapi dianiya oleh semua. Mereka dibunuh dan memperoleh hidup. Mereka miskin namun memperkaya banyak orang. Mereka berada dalam kekurangan tapi memiliki segalanya. Mereka dipermalukan namum memperoleh kemuliaan lewatnya.

Mereka diolok tapi membalas dengan memberkati. Mereka ditangani secara kasar tapi memperlakukan orang lain dengan hormat. Saat mereka berbuat baik, mereka dihukum sebagai penjahat; saat dianiaya, mereka bersukacita seolah-olah telah diberikan hidup yang baru. Mereka diserang oleh orang Yahudi sebagai orang asing; namun orang yang membenci mereka tidak dapat memberi alasan untuk kebencian itu.

Secara sederhana - orang-orang Kristen itu adalah bagaikan jiwa bagi dunia ini. Jiwa itu tersebar di seluruh tubuh sebagaimana orang Kristen itu tersebar di setiap kota di dunia ini. Jiwa itu ada di dalam tubuh tapi bukanlah tubuh itu; orang-orang Kristen berada di dalam dunia tapi mereka bukan dari dunia."(Dikutip dari surat yang ditulis seseorang kepada Diognetus-History of Christianity)

Cuplikan surat di atas menggambarkan orang-orang Kristen di abad kedua. Dapatkah orang-orang Kristen di zaman ini digambarkan sebagai orang-orang yang berada di dunia tapi bukan dari dunia, sebagaimana Yesus menggambarkan murid-murid-Nya di Yohanes 17.11 bahwa mereka berada di dunia tapi mereka bukan dari dunia (ay.14).

Bagaimana kita dapat melakukan kehendak Tuhan?

 



Elsie C.
Di katakan di Ibrani 10:36, "Kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu, yaitu hidup (ay.39) .  Hanya satu jenis orang yang akan tetap hidup selama-lamanya, yaitu orang yang melakukan kehendak Allah. ( 1Yoh. 2:17)
Namun tidaklah mudah bagi kita untuk melakukan kehendak Allah. Terdapat beberapa hal yang mendasar yang akan membantu kita dalam melakukan kehendak Tuhan.
  1. Kita harus Percaya kepada-Nya. Dalam hal yang berhubungan dengan kehidupan kita, kita hanya akan melakukan perintah atau kehendak dari orang yang kita percayai atau ditakuti.

    Namun Allah lebih senang kalau kita melakukan kehendak Allah karena kita percaya kepada-Nya bukan karena kita takut pada-Nya. Sebagai seorang Bapa yang baik, Dia lebih senang dipercayai daripada ditakuti. Dalam hubungan dengan seseorang yang memberi perintah, apakah orangtua, guru, dokter dll., tanda kepercayaan adalah ketaatan. Dan sebaliknya tanda ketidak-percayaan ialah ketidak-taatan. Orang yang hidup dalam ketidak-taatan dalam pengertian apapun tidak dapat disebut orang percaya, karena ketidak-taatannya adalah bukti ketidak-percayaannya, sekalipun ia mempercayai dengan segenap hati Yesus ialah Tuhan!
  2. Kehendak Allah tidak berat. Apakah kita menemukan bahwa kehendak atau perintah Allah itu berat? Jika kita mengasihi seseorang, setiap keinginan dan kehendaknya sangatlah enteng. Kita akan dengan penuh semangat berusaha untuk menyenangkan hati orang yang kita kasihi. Orang yang sedang berpacaran pasti tahu hal ini. Karena cinta, tidak ada yang terasa berat, banyak orang yang bahkan sanggup mengorbankan segalanya karena cinta.

    Jika kita sesungguhnya mengasihi Tuhan, perintah-Nya tidak akan terasa berat, karena satu-satunya upah yang kita cari ialah kesenangan-Nya. Seperti yang dikatakan oleh Yohanes, "Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat (1 Yoh. 5.3)
  3. Pandangan tentang kehendak Allah. Kehendak Allah itu baik dan sempurna bagi kita. Allah tidak memperoleh apa-apa ketika kita melakukan kehendak-Nya. Semua kehendak-Nya adalah demi kebaikan dan keuntungan kita. Tidak ada satupun yang kita lakukan "untuk Dia" yang menguntungkan Dia, tetapi justru untuk keuntungan kita sendiri!

    Kita menyembah Dia, tapi yang untung kita sendiri. Jika kita berdoa, siapa yang untung? Dan ini termasuk semua larangan yang Tuhan tetapkan bagi kita. Kita seringkali memandang kehendak dan larangan Allah sebagai mengekang kebebasan kita.

    Akal budi kita harus diperbarui untuk melihat bahwa setiap perintah Allah itu adalah untuk kebaikan dan untuk melindungi kita dari yang jahat. Oleh karena itu, dalam melakukan kehendak Allah, janganlah kita berpikir kita telah mengorbankan sesuatu, karena dalam kenyataannya kita tidak rugi apa-apapun, tetapi malah memperoleh segala sesuatu.
  4. Kita harus kumpul, duduk dan dengar. Alasan yang sering diberi untuk tidak melakukan kehendak Allah adalah karena kita tidak mengetahuinya. Di Matius 12:50 Yesus berkata bahwa siapa saja yang melakukan kehendak Bapa di surga adalah saudaranya. Yesus menunjuk kepada mereka yang sedang berkumpul, duduk dan mendengarkan firman Tuhan ( Mt 12.46-50). Firman Tuhan mengungkapkan kehendak Tuhan.

    Memang benar bahwa kita tidak mungkin dapat melakukan kehendak Tuhan, jika kita tidak mengetahuinya. Dan cara untuk mengetahui kehendak Tuhan adalah mengetahui apa yang diucapkan atau dikatakan oleh-Nya. Kehendak seseorang diungkapkan lewat kata-katanya, demikian juga dengan Tuhan, kata-kata-Nya atau firman-Nya mengungkapkan isi hati dan kehendak-Nya.

    Tidak ada alasan untuk kita berkata kita tidak mengetahui kehendak Tuhan padahal Dia sudah mengungkapkan semuanya di dalam Kitab Suci.
  5. Waktu. Kita perlu meluangkan waktu untuk mengetahui maupun melakukan kehendak Tuhan. Paulus meminta kita untuk mempergunakan waktu kita dengan arif dan bijaksana. Dan  orang yang arif akan mempergunakan waktu untuk mengerti kehendak Allah (Efe 5:15-17). Sangat menyedihkan melihat bagaimana orang membuang waktu mereka untuk hal-hal yang tidak berguna; menonton filem-filem yang tidak berguna, membaca majalah-majalah dan buku-buku yang tidak bermanfaat dan juga menghabiskan waktu  melakukan kegiatan-kegiatan yang sia-sia. Kesibukan tidak selalunya berarti produktivitas.

    Waktu adalah hidup, dan jika kita arif, kita akan memaksimalkan waktu kita untuk mencari-tahu kehendak Allah bagi kehidupan kita. Kita dapat memulainya dengan memperhatikan dengan seksama bagaimana kita hidup, atau dengan kata lain, bagaimana kita mempergunakan waktu kita. Ada baiknya kita mulai menyerderhanakan hidup kita.
Kiranya kita ditemukan seperti Maria yang meninggalkan segala kesibukan dan memfokuskan diri untuk duduk dan mendengarkan perkataan Yesus dan tidak seperti Marta yang sibuk melakukan banyak hal dan gagal dalam memilih bagian yang terbaik (Lukas 10.38-42). Dan setelah mendengarkan isi hati Tuhan, kita tinggal melakukannya karena kita mengasihi dan mempercayainya dari kedalaman hati kita.

Mengapa Allah mengizinkan rasa sakit?


Rick Warren
Saya yakin bahwa ada satu pertanyaan yang jauh lebih sering diajukan dibandingkan dengan pertanyaan lainnya, terutama jika Anda melayani orang-orang yang sedang dilanda masalah, pertanyaan itu adalah, "Mengapa Allah mengijzinkan rasa sakit?" Saya tidak bisa lagi menghitung sudah berapa kali saya ditanyai masalah yang satu ini.
Jadi, jika Anda menghadapi pertanyaan ini, berikut adalah empat jawaban yang bisa Anda berikan kepada orang-orang itu.
1. Allah memberikan kita kehendak bebas
Di dalam kitab Kejadian kita melihat bahwa kita ini diciptakan menurut gambar Allah. Namun seperti apa jelasnya? Allah memberi kita pilihan. Kita bebas untuk memilih apakah akan melakukan hal yang baik atau yang buruk, untuk menerima atau menolak Allah. Mengapa Allah memberi kita pilihan ini? Karena Dia tidak ingin memiliki kumpulan boneka. Dia tidak harus melakukan hal itu. Dia bisa saja memaksa kita untuk menyembah, melayani dan mengasihi Dia. Namun Dia ingin agar kita mengasihi Dia dengan sukarela. Anda tidak bisa mengatakan bahwa Anda mengasihi seseorang kecuali jika Anda memiliki kesempatan untuk tidak mengasihi dia.
Kehendak bebas ini bukan hanya menjadi suatu anugerah. Kadang kala, kehendak bebas itu menjadi suatu beban. Kadang-kadang, kita membuat pilihan yang bodoh. Pilihan-pilihan itu menimbulkan segala macam akibat yang menyakitkan dalam hidup kita. Saya bisa saja memilih untuk mencoba obat bius. Kalau saya sampai ketagihan, maka itu adalah kesalahan saya sendiri. Saya bisa saja memilih untuk berperilaku seks bebas. Kalau saya terkena penyakit, maka itu kesalahan saya. Allah tidak ingin kita mengalami segala kepedihan ini, akan tetapi Dia akan membiarkan kita menghadapi semua akibat dari pilihan-pilihan kita.
Bukan hanya kita saja yang memiliki kehendak bebas, orang lain juga memilikinya. Kadang kala kita terluka akibat pilihan yang buruk oleh orang lain. Kita semua pernah disakiti oleh orang lain selama hidup ini. Mungkin Anda pernah membatin, "Mengapa Allah tidak mencegahnya?" Dia bisa saja mencegahnya. Cukup dengan merampas kehendak bebas orang yang bersangkutan. Akan tetapi, di sinilah letak dilemanya. Dalam rangka melakukan hal itu, Dia juga harus merampas kehendak bebas Anda.
2. Allah memakai rasa sakit itu untuk mendapatkan perhatian kita
Kepedihan atau rasa sakit adalah suatu lampu isyarat. Lampu isyarat yang memberitahu kita tentang adanya sesuatu hal yang salah. Bukan rasa sakit itu yang menjadi masalahnya. Itu hanya suatu gejala saja. Rasa sakit itu adalah semacam pengeras suara yang dipakai Allah. Seperti pepatah yang pernah Anda dengar, "Allah berbisik kepada kita di saat kita menikmati kesenangan, namun Dia berteriak kepada kita melalui kepedihan kita." Amsal 20:30 berbunyi, "Bilur-bilur yang berdarah membersihkan kejahatan, dan pukulan membersihkan lubuk hati." Kadang-kadang dibutuhkan situasi yang menyakitkan untuk membuat kita mengubah jalan kita.
Beberapa tahun yang lalu saya memiliki sepasang sepatu yang sangat saya sukai. Sepatu itu terbuat dari kulit rusa dan benar-benar terasa halus dan nyaman. Sepasang sepatu yang sangat hebat! Namun, tak lama kemudian, alasnya bolong. Akan tetapi bagian atasnya masih terlihat bagus. Saya tetap saja memakainya. Saya hanya perlu memastikan bahwa saat saya duduk di atas panggung, kaki saya tetap menjejak di lantai. Saya tidak berminat untuk membeli sepatu baru, sampai turun hujan selama tujuh hari berturut-turut, dan saya harus memakai sepatu yang basah itu selama tujuh hari berturut-turut. Kaki saya yang basah itu akhirnya mendorong saya untuk berubah! Paulus berkat kepada kita di dalam 2 Korintus 7:9, "Namun sekarang aku bersukacita, bukan karena kamu telah berdukacita, melainkan karena dukacitamu membuat kamu bertobat." Kadang-kadang dibutuhkan rasa sakit untuk membuat kita melakukan apa yang Tuhan mau kita lakukan.
Ingatkah Anda akan kisah Yunus? Yunus berniat pergi ke satu tujuan dan Allah berkata, "Aku ingin agar kamu pergi ke arah yang lain." Lalu Allah memberi tumpangan kepada Yunus dalam bentuk yang sangat khas di laut tengah - dalam perut ikan paus! Dan, di dasar lautan itu, Yunus berkata, "Saat aku kehilangan harapanku, sekali lagi kuarahkan pikiranku kepada Tuhan." Allah memakai kepedihan untuk mendapatkan perhatian kita.

3. Allah memakai rasa sakit untuk mengajari kita agar bergantung kepada-Nya
Anda tidak menyadari bahwa Allah adalah tempat Anda bergantung, sampai akhirnya Anda hanya bisa berharap kepada-Nya. Paulus menyebutkan hal ini di dalam 2 Korintus 1:8-10, "Sebab kami mau, saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati.
Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati. Dari kematian yang begitu ngeri Ia telah dan akan menyelamatkan kami: kepada-Nya kami menaruh pengharapan kami, bahwa Ia akan menyelamatkan kami lagi."
Jika Anda belum pernah berhadapan dengan masalah, maka Anda tidak akan tahu apakah Allah bisa mengatasinya. Allah membiarkan kepedihan terjadi untuk mengajari Anda agar bergantung kepada-Nya. Alkitab berkata di dalam Mazmur 119:71, "Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu." Sebenarnya, kita ini hanya bisa belajar dari kepedihan. Belajar bergantung kepada Allah adalah salah satu di antaranya.
4. Allah membiarkan terjadi kepedihan untuk membuka jalan bagi kita melayani orang lain
Kepedihan mempersiapkan Anda buat pelayanan. Paulus berkata di dalam 2 Korintus 1:4, "Yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah." Setiap orang membutuhkan pemulihan dari suatu masalah. Tak ada orang yang sempurna. Siapa yang bisa menolong orang yang kecanduan alkohol melebihi kemampuan orang yang pernah mengalami kecanduan alkohol itu? Siapa yang bisa menolong orang yang mengalami pelecehan melebihi kemampuan orang yang pernah mengalami pelecehan itu? Allah ingin memakai dan mendaur ulang kepedihan di dalam hidup kita untuk bisa menolong orang lain, akan tetapi kita harus jujur dan terbuka akan hal itu.
Allah melakukan hal itu kepada Kay dan saya. Tiga tahun pertama masa pernikahan kami benar-benar sangat buruk. Saya bisa memahami perasaan orang yang berkata bahwa dia sangat menderita dan ingin bercerai. Saya mengerti hal itu karena saya pernah mengalaminya. Namun berkat pertolongan seorang pembimbing Kristen, Kay dan saya mengatasi semua persoalan itu dan sekarang menikmati suasana pernikahan yang luar biasa. Beberapa tahun yang lalu, saya menyampaikan satu seri khotbh ibadah Minggu pagi mengenai pernikahan, di mana saya membahas tentang berbagai persoalan dalam pernikahan yang telah kami atasi. Seri khotbah itu mencapai 12 rangkaian khotbah, namun sebenarnya masih bisa mencapai sekitar 50. Allah memakai kepedihan Anda untuk bisa menolong orang lain.
Bayangkanlah seperti apa armada pelayanan yang bisa Anda latih di tengah jemaat Anda jika Anda menolong orang-orang itu memakai kepedihan di masa lalu mereka sebagai kesempatan untuk melayani. Allah tidak pernah menyia-nyiakan kepedihan!

Bagaimana Memaafkan Orang yang telah Menyakiti Kita


Rick Warren

Sangatlah penting untuk kita memaafkan orang yang telah melukai kita. Terlalu banyak orang Kristen yang gagal menggenapi rencana Allah dalam hidup mereka karena mereka menumpuk luka-luka lama. Dan terlalu banyak Jemaat yang menderita karena hal ini. Dalam artikel ini, saya akan bagikan tiga langkah  supaya  kita bisa memaafkan mereka yang telah melukai kita.
  1. Melepaskan hak untuk menuntut balas

    Anda harus memulai dengan melepaskan orang yang telah melukai Anda dari tuntutan kemarahan . Ini tidak adil, begitukah menurut ? Anda benar. Pengampunan bukanlah hal yang adil. Sungguh tidak adil ketika Allah mengampuni dosa-dosa kita, dan juga tidak adil ketika Anda harus mengampuni orang lain. Allah tidak memberi kita hal yang layak kita terima. Dia memberi kita hal yang sangat kita butuhkan.

    Alkitab berkata bahwa Allah itu adil. Suatu hari nanti, Dia akan menuntaskan semua persoalan. Untuk sementara ini, biarlah Allah memenuhi hati kita dengan damai sejahtera dan kasih karunia.

    Alkitab berkata di dalam Roma 12:19, "Janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan."

    Langkah pertama dalam memaafkan adalah tidak mengambil tindakan penegakan keadilan secara pribadi. Biarlah Allah yang akan menjadi Hakim yang tidak memihak.

    Setiap kali  Anda teringat betapa Anda telah disakiti, lepaskanlah ingatan itu. Sangatlah menyenangkan bisa tetap teguh. Saat Yesus ditanyai berapa kali kita harus mengampuni orang yang bersalah kepada kita, Dia menjawab 70 kali 7. Dengan kata lain, kita harus terus mengampuni.

    Bagaimana Anda bisa tahu bahwa Anda telah benar-benar melepaskan luka itu? Kalau Anda sudah tidak terasa menyakitkan lagi. Anda mungkin telah memaafkan seseorang sampai ribuan kali sebelum hal itu menjadi suatu kenyataan. Namun setiap kali sakit hati itu muncul, katakanlah kepada Allah, "Ya Allah, sekali lagi, kuserahkan hal ini kepada-Mu. Untuk ke sekian ratus kalinya, ya Tuhan, kulepaskan mereka dari tuntutan sakit hati ini dan menyingkirkan hakku untuk menuntut balas." Setiap kali Anda menahannya, maka sakit hati itu akan semakin dalam. Namun setiap kali  melepaskannya, maka rasa sakit hati itu akan semakin melemah.
  2. Pusatkan kembali perhatian pada rencana Allah bagi hidup Anda

    Anda hanya bisa memusatkan perhatian ke arah masa depan atau masa lalu - tidak bisa ke dua-duanya. Pusatkanlah perhatian pada hal-hal yang ingin Allah kerjakan di dalam hidup Anda. Selama  Anda memusatkan perhatian pada orang yang melukai Anda, maka merekalah yang sedang mengendalikan Anda. Anda tentu tidak ingin orang-orang yang dulu pernah melukai Anda mengendalikan hidup Anda di masa kini. Anda tentunya ingin agar Allah yang mengendalikan hidup Anda.

    Sebenarnya, jika Anda tidak membebaskan orang yang melukai Anda, maka Anda akan menjadi semakin mirip dengan dia. Anda akan menjadi mirip dengan apa yang menjadi fokus perhatian Anda. Jika Anda memusatkan perhatian pada rasa sakit, maka Anda akan mengarah ke sana. Jika Anda berfokus pada tujuan hidup, maka Anda akan maju.

    Bagaimana melakukannya?

    Alkitab memberitahu kita di dalam kitab Ayub 11:13-16, "Jikalau engkau ini menyediakan hatimu, dan menadahkan tanganmu kepada-Nya; jikalau engkau menjauhkan kejahatan dalam tanganmu, dan tidak membiarkan kecurangan ada dalam kemahmu, maka sesungguhnya, engkau dapat mengangkat mukamu tanpa cela, dan engkau akan berdiri teguh dan tidak akan takut, bahkan engkau akan melupakan kesusahanmu, hanya teringat kepadanya seperti kepada air yang telah mengalir lalu."

    Luruskan hati Anda. Artinya, lakukanlah hal yang benar. Maafkan orang itu. Lepaskan dia dari tuntutan sakit hati.

    Memohon kepada Allah. Mintalah Yesus Kristus untuk turut campur dan memenuhi hati Anda dengan kasih-Nya.

    Hadapi lagi dunia ini. Jangan menarik diri. Jangan mengurung diri Anda. Anda tidak bisa mengasihi tanpa menaggung resiko dilukai. Dan hidup tanpa mengasihi jelas-jelas bertentangan dengan rencana Allah bagi hidup Anda.
  3. Tanggapilah kejahatan dengan kebaikan

    Paulus memberitahu kita di dalam Roma 12:21, "Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!." Ada begitu banyak kejahatan di dunia ini. Anda tidak akan bisa mengatasi kejahatan dengan cara mengecamnya. Anda hanya bisa mengatasi kejahatan dengan kebaikan.

    Saddleback ini, Jemaat kita bukanlah Jemaat yang berwatak perang. Kita tidak menghabiskan waktu kita dengan mengecam apa yang dilakukan oleh dunia. Kita tidak bisa berharap agar mereka yang tidak percaya itu berperilaku seperti orang yang percaya, sebelum mereka menjadi percaya. Anda tidak akan bisa mengubah dunia dengan cara mengecamnya.


Melalui Rencana Damai, kami telah mengirim ribuan tim ke seluruh dunia sejak 2004, untuk mengatasi kejahatan dengan kebaikan, dengan menawarkan pemulihan hubungan, memperlengkapi para hamba Tuhan yang berkedudukan pemimpin, menolong orang miskin, merawat orang sakit dan mendidik generasi penerus.
Satu negara yang menjadi fokus kami adalah Rwanda. Anda mungkin pernah mendengar tentang kejahatan mengerikan - yakni pembasmian etnis - yang pernah terjadi pada tahun 1994 di Rwanda. Kebencian ada di mana-mana. Namun Allah telah mengerjakan karya yang ajaib di negara ini. Tahun lalu, Uskup John Ruchyana mengunjungi Saddleback, dan bersama-sama kami berbicara kepada Jemaat mengenai masalah ini. Pada hari itu, dia memberi kesaksian proses pemulihan ajaib yang sedang berlangsung di negaranya itu. 
"Saudara-saudariku, Yesus yang kita sembah, Tuhan yang kita sembah dan imani adalah kunci pemulihan hubungan di Rwanda. Kita tidak bisa lagi menekankan perbedaan lalu berharap bisa mendapat hasil yang baik. Di Rwanda, pembalasan dendam adalah hal yang tak mampu kami lakukan. Kami harus menjalankan pemulihan hubungan. Kami harus menghadapi kenyataan tentang kelemahan kami, keadaan kami yang menyedihkan, tentang dosa-dosa kami. Kami harus menghadapi semua itu bersama Yesus Kristus di dalam hidup ini, agar bisa membangun suatu bangsa lagi. Kami harus hidup.
Kami tidak ingin lagi menambah luka hati. Kami ingin membangun harapan. Sungguh ajaib jika kita tatap harapan itu dari sudut pandang Yesus Kristus. Harapan yang begitu cerah. Sangat cerah. Rwanda nanti bisa menjadi poros pembangunan di Afrika. Orang-orang akan datang kepada kami dan belajar. Namun semua ini bukan karena kemampuan kami. Tidak, semua itu bagi kemuliaan Allah. Allahlah yang mengerjakan semua itu. Allah yang membangun kembali semua itu. Allah yang mengerjakan semuanya dengan penuh kuasa, secara ilahi." 
Itu adalah gambaran dalam contoh yang besar berkaitan dengan hal kejahatan dan kebaikan. Anda bisa melakukannya di dalam kehidupan pribadi Anda juga. Saat ada orang melukai hati Anda, lakukanlah perbuatan baik kepada mereka. Apakah mudah? Tentu saja tidak. Setiap tulang di dalam tubuh kita ingin menanggapi kejahatan dengan kejahatan juga. Namun pengampunan itu muncul jika kita menanggapi kejahatan dengan kebaikan.
Saya harap setiap orang Kristen akan ditantang untuk melakukan ini - dan benar-benar melakukannya - di dalam kehidupan pribadi mereka.
Di musim gugur sekarang ini, kami akan sediakan sebuah sarana yang luar biasa untuk menolong mereka dalam petualangan mereka memberikan pengampunan ini. Untuk mencari tahu lebih banyak tentang kampanye pertumbuhan rohani Life's Healing Choice (Pilihan yang Menyembuhkan Hidup) ini, kunjungilah www.lifeshealingchoices.com.
(Diterjemahkan dan diedit seperlunya oleh Cahaya Pengharapan Ministries)