Minggu, 17 Februari 2013

Kuasa Doa

Oleh: Ev. Margareth Linandi
Setiap pemimpin punya kuasa untuk berbuat sesuatu. Contohnya: seorang pemimpin punya kuasa untuk memimpin anak buahnya mengikuti kebaktian doa sebelum memulai pekerjaan dan memecat anak buahnya jika dia tidak taat pada pemimpin.
Bicara soal kuasa, percayakah kita bahwa perkataan kita mengandung kuasa? Ya benar. Kuasa untuk membangun dan untuk menjatuhkan. Contoh: ketika orang tua sering mengucapkan kata bodoh terus menerus pada anaknya, maka lama kelamaan anak itu menjadi bodoh.
Sama halnya dengan perkataan, doa kita pun bisa mengandung kuasa; untuk memulihkan atau menjatuhkan. Contoh: orang yang tekun berdoa dan mengamini doanya ketika ia berdoa, lama kelamaan sakitnya hilang dan ia sembuh kembali. Atau sebaliknya jika seseorang ragu akan doanya maka doanya tidak dijawab.

Ada beberapa tips agar doa mempunyai kuasa:

1. Akuilah dosa dan salah kita di hadapan Tuhan.
Manusia adalah makhluk berdosa dan dalam Roma 3:10 dikatakan ”Tidak ada yang benar seorang pun tidak.” Ini menunjukkan bahwa semua manusia berdosa dan dosa menghalangi Tuhan menjawab doa kita.
Doa akan berkuasa jika kita mengakui dosa kita sebelum meminta sesuatu pada Tuhan. Kalau masalah kita belum beres maka doa kita tidak akan dijawab Tuhan.

2. Saling mendoakan.
Berdoa bukan untuk kepentingan diri sendiri saja tetapi juga untuk orang lain.

3. Berdoa dengan iman.
Iman adalah kepercayaan kita kepada Tuhan. Yesus menginginkan agar kita mempunyai iman sebesar biji sesawi saja maka kita dapat memindahkan gunung. Maksudnya kalau kita punya iman yang kecil tapi kuat maka apa yang kita yakini akan terjadi.

Elia adalah contoh orang yang berdoa dengan iman.
1. Dia berdoa agar hujan tidak turun selama 3 1/2 tahun dan itu terjadi karena ia beriman.
2. Dia berdoa agar hujan turun, dan hujan pun turun. Semua terjadi karena ia tidak ragu.
Maukah doa kita berkuasa seperti Elia? Kita juga bisa asal kita percaya dan yakin dan doa kita akan menjadi kenyataan.
”Doa orang benar , bila dengan yakin didoakan akan sangat besar kuasanya.” (Yakobus 5:16b).

George Mueller: Bapak untuk Kaum Yatim Piatu

 
“Hampir tujuh puluh tahun lamanya setiap kekurangan mengenai pekerjaan Tuhan ini (panti asuhan yang ia pimpin dan dirikan, pen.) selalu Tuhan cukupkan. Jumlah anak-anak piatu di Panti Asuhan ini meningkat terus dan hingga kini mencapai 9500 orang. Meskipun demikian, belum pernah sekalipun mereka tidak mendapatkan makanan. Sudah beratus-ratus kami memulai hari tanpa uang satu senpun di tangan kami, tetapi Bapa Samawi selalu memberikan kepada kami kecukupan pada saatnya yang tepat…. Saya telah menerima kiriman sejumlah 7.500.000 dolar sebagai jawaban atas doa saya. Dan dari 200.000 dolar yang kami gunakan dalam setahun semuanya telah datang pada waktu yang kami perlukan benar. Tak seorangpun dapat berkata bahwa saya telah meminta dari dia walau sesenpun. Kami tidak mempunyai badan-badan pengurus atau panitia, tidak menjalankan pemungutan derma, tidak punya jemaat atau lembaga yang membiayai kami. Semua keperluan kami telah Tuhan cukupkan sebagai jawaban doa kami yang sungguh-sungguh.”
Itulah kata-kata yang diucapkan George Mueller kepada Charles R. Parsons saat Parsons mengunjunginya. Catatan dari kunjungan itu kemudian menjadi sebuah buku terkenal berjudul An Hour with George Muller.
***
George Mueller dilahirkan di Kroppensstedt, Jerman, pada tanggal 27 September 1805. Ia adalah seorang anak yang sangat nakal awalnya. Waktu berumur 10 tahun, ia sudah berani mencuri uang ayahnya. Menjelang remaja, kenakalannya semakin menjadi-jadi. Ia suka mabuk-mabukan dan melakukan berbagai tindakan asusila lainnya.
Ia seringkali menginap di hotel-hotel yang mahal selama beberapa hari, lalu kabur tanpa membayar sewa hotelnya. Ayahnyalah yang akhirnya terpaksa datang untuk melunasi rekening hotel tersebut. Karena tingkah lakunya yang demikian, George pernah mendekam di penjara selama satu bulan dan kembali sang ayah yang baik hati datang untuk menebus anak kesayangannya itu.
            Pertobatan Mueller terjadi saat ia berusia sekitar 20 tahun. Waktu itu ia berkuliah di Universita Halle. Ia bertobat dengan pertolongan delapan orang teman kampusnya yang awalnya sering ia jadikan sebagai bahan olokan karena dianggap terlalu rohani. Sejak pertobatannya, ia bersungguh-sungguh di dalam mengasihi dan melayani Tuhan hingga ia meninggal dunia pada usia 92 tahun.
            Pada usia 25 tahun ia menikah dengan Mary Groves dan pindah dari Jerman ke Inggris untuk menggembalakan sebuah gereja dengan jemaat sebanyak 18 orang. Waktu berjalan dan ia rindu mendirikan sebuah panti asuhan bagi anak-anak terlantar. Untuk keperluan itu ia membutuhkan dana sebesar 1000 poundsterling. Bantuan-bantuan pun datang kepadanya. Pertama-tama ada seseorang yang memberikan bantuan sebesar 10 shilling kepadanya. Sebuah jumlah yang sangat sedikit. Namun, Mueller mengucap syukur kepada Bapa dan menyatakan bahwa itulah benih dari imannya. Kemudian orang lain datang memberikan sebuah lemari besar, 3 baskom air, sebuah wadah air minum, 28 piring makan, 4 pisau, 5 garpu, 3 tempat garam dan 4 cangkir. Demikianlah bantuan-bantuan lain datang sehingga akhirnya segenap kebutuhannya akhirnya digenapi.
             Catatan-catatan berupa segala bantuan yang ia terima dapat kita ketahui dari buku hariannya. Di sana ia juga mencatat lebih dari 25.000 jawaban doa dari Tuhan atas setiap kebutuhan hidupnya.
            George Mueller dipakai Tuhan secara luar biasa untuk mendirikan panti asuhan Kristen. Pada tahun 1845 ia sudah mempunyai 130 anak asuh dengan menyewa empat gedung. Kemudian ia berketetapan untuk mempunyai gedung sendiri yang bisa menampung 300 anak, padahal uang kasnya hanya 5 poundsterling. George mulai membawa semuanya ini kepada Tuhan dalam doa, dan pada tanggal 14 Januari 1846, sebulan setelah ia berdoa, datanglah sebuah sumbangan sejumlah 1000 poundsterling.
***
            Doa yang dilandasi Firman Tuhan, itulah yang menjadi dasar kehidupan George Mueller. Melalui tulisannya yang berjudul Ibadah Terbaik Anda (diedit ulang oleh Melody Green), Mueller menyatakan bahwa sebelum berdoa, ia selalu merenungkan Firman Tuhan terlebih dahulu. Ia seringkali membawa Alkitab-nya ke luar rumah dan mencari tempat yang ia sukai untuk merenungkan Firman Tuhan. Hasil renungan inilah yang kemudian ia jadikan dasar bagi doa-doanya.
            Inilah kisah ringkas mengenai George Mueller, seorang yang tadinya adalah pemuda bandel yang hidup bergelimangan dosa. Selama hidupnya, ia telah mengasuh sekitar 9500 anak-anak yatim piatu dan kebutuhan-kebutuhan bagi mereka didapatkannya melalui doa. Banyak orang belajar, menaruh hormat dan rasa kagum yang dalam atas apa yang Tuhan kerjakan dalam hidupnya. Selain memberi makan, mengasuh dan mendidik anak-anak, ia juga:
-         menyokong 189 pekabar Injil di berbagai belahan dunia
-         menyokong dana dari kira-kira 100 sekolah dengan jumlah murid sebanyak 9000 orang
-         menyebarkan traktat sebanyak 4.000.000 eksemplar untuk pemberitaan Injil setiap tahun.
 
(dari berbagai sumber)

Don Moen dan Karya-karyanya

 
    Sebuah lagu atau karya apapun yang diciptakan oleh seseorang biasanya bukan hasil imajinasi belaka. Itu berangkat dari pengalaman yang nyata. Karya-karya seperti inilah yang biasanya bertahan lama; karena ia ditulis berdasarkan kejujuran.

Ini pulalah yang terjadi pada Don Moen, seorang artis musik Kristiani yang sudah tidak asing lagi di kalangan orang Kristen. Dia begitu dikenal luas dengan lagu-lagunya. Ia tampil di depan ribuan orang setiap malam. Kaset dan produk rekaman lainnya telah terjual jutaan.

Lagu-lagunya dikenal oleh para pemuji dan pemimpin pujian di seluruh dunia. Namun, ia adalah sosok yang rendah hati. Di tengah berbagai kesibukannya, ia tetap mengutamakan keluarga. Ia suka memasak. Ketika anak-anaknya bertanding basket, ia turut datang dan menyoraki mereka.
Berikut kita akan melihat apa yang dialaminya sebelum menciptakan lagu God will Make a Way (Dia Buka Jalan). Juga, dua lagu terbarunya, Thank You, Lord dan Jesus, You are My Healer.

God will Make a Way

Pada suatu malam Don Moen menerima kabar lewat telepon bahwa adik iparnya telah kehilangan putra sulungnya dalam sebuah kecelakaan mobil. Craig dan Susan Phelps dan keempat anak mereka sedang dalam perjalanan dari Texas ke Colorado saat mobil mereka ditabrak oleh truk kontainer. Ketika tabrakan itu terjadi, mereka berdua masih di mobil sedangkan semua anak mereka terlempar keluar. Mereka mencari empat anak itu dengan susah payah. Tapi hati Craig, yang adalah seorang dokter, sedih ketika mendapati Jeremy, yang telah meninggal karena patah leher, sehingga tak ada lagi yang dapat dilakukan untuk menolongnya.

Sewaktu Don Moen menerima kabar tersebut beberapa jam kemudian ia berkata, "Saya merasa terguncang, tapi keesokan harinya saya harus terbang ke kota lain untuk melakukan rekaman sesuai dengan jadwal yang telah diatur beberapa minggu sebelumnya. Sekalipun saya tahu mereka berduka, saya tak dapat bersama mereka sampai satu hari sebelum pemakaman."

Dalam penerbangan pagi itu Tuhan memberinya suatu inspirasi baginya satu lagu baru dengan syair sebagai berikut , "God will make a way where there seems to be no way. He works in ways we cannot see, He will make a way for me.(Dia buka jalan saat tampaknya tiada jalan. Dengan cara yang tak terlihat, Dia buka jalan bagiku)"

Lagu ini didasarkan pada Yesaya 43:19,"Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara."

Susan, ibu Jeremy menyatakan bahwa ia menemukan kebenaran dari ayat sumber inspirasi lagu tersebut. Beberapa waktu kemudian, ketika keadaannya sudah dipulihkan hubungan Craig dan Susan dengan Tuhan semakin meningkat lebih dalam dan mereka memutuskan untuk melayani-Nya.

Susan juga menyatakan,"Di hari kecelakaan itu sewaktu saya keluar dari mobil untuk menolong anak saya, saya merasa bahwa putra sulung saya telah meninggal. Dan saya mempunyai pilihan untuk marah dan mengalami kepahitan atau secara total menerima semua rencanaNya pada saya. Dan saya pun melihat buah dari semua pilihan saya itu, dan pilihan yang saya ambil, akan berulang secara terus menerus. Saya merasa bahwa kematian putra saya tak sia-sia, begitu saya mengetahui di kemudian hari begitu banyak jiwa yang datang pada Tuhan karena tragedi ini. Benar! Ia telah membuka jalan bagi kami sekeluarga."

Tiba saatnya ketika lagu tersebut direkam dan kemudian didengar banyak orang maka Don Moen menerima begitu banyak surat dan telepon yang menyatakan bahwa lewat lagu itu Tuhan telah menolong mereka di masa kesusahan mereka dan membuka jalan bagi mereka.

Thank You, Lord!

Saat itu, Don Moen sedang sedang duduk di balkon gereja, melihat orang-orang yang menyelenggarakan kebaktian dan ia berharap bisa menciptakan lagu sederhana berupa pengucapan syukur yang dapat dinyanyikan semua orang. Menurutnya, kadangkala pujian dan penyembahan bisa sangat kompleks. Kebaktian yang sesungguhnya adalah penyembahan, tapi pemimpin pujian kadangkala membuatnya sulit dengan lagu dan lirik yang mereka bawakan.

Di hari itu Don Moen sedang berada di gerejanya sendiri dan ia memohon agar Tuhan memberinya sebuah lagu yang membuat setiap orang untuk dapat bersyukur kepadanya dengan mudah melalui lidah-bibir mereka. Dan, hasilnya adalah, “Terima kasih, Tuhan” (Thank You, Lord).
Pengucapan syukur adalah langkah pertama untuk masuk dalam hadirat Tuhan. Alkitab menyatakan, "Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur…." (Mazmur 100:4). Kata-kata sederhana, “Thank You, Lord,” adalah salah satu konsep yang penuh kekuatan untuk masuk di dalam hadirat Tuhan melalui penyembahan.

Doen Moen menyatakan adalah baik jika kita selalu mengucapkan “Terima kasih, Tuhan atas apa yang sudah kauberi padaku, untuk semua berkat yang tak dapat kulihat,” Menurutnya ini luar biasa karena melaluinya kita mengingat apa yang sudah dia lakukan di masa lalu dan mengucap syukur atas apapun yang dikerjakan-Nya di masa depan. Ia bersaksi, “Saya selalu berdoa dengan kata-kata itu di setiap konser saya. Jikalau kau dapat bersyukur untuk sesuatu yang belum kaulihat – sebuah pekerjaan, sebuah mobil, atau kesembuhan, itu sangat luar biasa.”

Jesus, You are My Healer

Don Moen menerima sebuah email dari teman baiknya bernama Carli yang tinggal di Panama pada musim panas yang lalu. Dokter Carli sudah mendiagnosanya dan ia memiliki penyakit kanker cukup parah di pankreasnya. Setelah ia membaca email itu, ia ambil gitarnya dan berkata, “Oh, Tuhan, maukah kau memberiku sebuah lagu untuk kesembuhan Carli?” Hasilnya adalah, "Jesus, You are My Healer." Syairnya mengekspresikan keyakinan Don Moen bahwa Tuhan adalah Tuhan yang menyembuhkan – tak peduli seberapa parah penyakit itu.

Don Moen berkata, “Saya berdoa untuk Carli, dan sebuah keajaiban terjadi ketika hari demi hari berlalu. Saat ini, dokter berkata bahwa kanker itu masih ada di tubuhnya, namun sungguh ajaib karena ia masih dapat hidup.”

Enam bulan setelah diagnosa, Carli masih tetap hidup! Tes-tes terakhir menyatakan kalau tumor di lambungnya menghilang. Juga, yang menyebar di beberapa bagian tubuhnya yang lain, lenyap. Sedangkan tumor yang ada di pankreasnya masih ada dengan ukuran yang sama, namun tidak bertumbuh/menyebar.

“Anda dapat melihat Carli pada video ketika kami menyanyikan lagu itu. Itu adalah momen yang luar biasa. Saya percaya setiap hari Tuhan akan menyembuhkan dia secara tuntas,” katanya.
(dari berbagai sumber)

WAJAH SANG JURU SELAMAT

Kisah hidup Fanny J. Crosby (1820-1915)

Fanny J Crosby merupakan seorang penulis himne dan penyair wanita. 
Karyanya lebih dari 8000 lagu yang sampai sekarang masih dinyanyikan 
dengan penuh semangat. Sebagian karyanya antara lain "Blessed 
Assurance" (`Ku Berbahagia, KJ 392), "Safe in the Arms of Jesus" 
(Selamat di Tangan Yesus, KJ 388), "Pass Me Not, O Gentle Saviour" 
(Mampirlah, Dengar Doaku, KJ 26), dan "Jesus, dan Keep Me Near the 
Cross" (Pada Kaki SalibMu, KJ 368). Setiap lagu yang diciptakannya 
merupakan bukti kecintaannya terhadap Yesus.

Masa Kecil

Fanny dilahirkan pada 24 Maret 1820 dari pasangan John dan Mercy 
Crosby. Pada bulan Mei 1820, ketika masih berusia 6 minggu, ia terkena 
demam dan matanya agak terganggu. Dokternya di Putnam County, New 
York, kota tempat ia tinggal, sedang keluar kota. Saat itu, ada 
seseorang yang mengaku sebagai dokter, salah memberikan pengobatan 
kepadanya dan ia tak bisa melihat lagi. Orang itu lari meninggalkan 
kota karena panik.

Orang tua Fanny adalah orang Kristen yang taat. Mereka membesarkan 
Fanny menjadi anak mandiri. Orang yang memunyai pengaruh kuat pada 
masa kanak-kanak Fanny adalah neneknya. Sebagai wanita yang cerdas dan 
sabar, ia sering mengajak Fanny berjalan-jalan di alam terbuka, 
menceritakan setiap kuntum bunga dan daun-daun secara sangat rinci dan 
Fanny mempelajarinya dengan sentuhan-sentuhan jarinya. Ia pula yang 
memperkenalkan Fanny pada karya-karya sastra dan puisi. Dan, yang 
terpenting, ia membacakan cerita-cerita dari Alkitab setiap hari.

Walaupun mendapat pendidikan dengan penuh perhatian, kehausan Fanny 
akan pengetahuan tak pernah terpuaskan. Ingatannya sangat luar biasa. 
Pada usia 10 tahun, ia dapat mengingat sebagian besar Perjanjian Baru 
dan lima kitab Perjanjian Lama. Sayangnya, sekolah pada masa itu belum 
dilengkapi dengan perangkat untuk mengajar orang buta, sehingga ia 
tidak dapat memperoleh pendidikan umum.

Mulai Bersekolah dan "Mengalami" Tuhan

Fanny berlutut bersama neneknya dan berdoa, "Tuhan yang Mahabaik, 
tunjukkan pada saya bagaimana saya dapat belajar seperti anak-anak 
lain." Tak lama kemudian, ibunya menyampaikan berita menggembirakan 
tentang kesempatan untuk masuk ke institut bagi orang buta di New 
York.

Dalam tahun itu juga, ia menjadi siswi terbaik dan setelah lulus ia 
menjadi guru di situ. Minat utamanya adalah pada puisi dan pada waktu 
senggang ia menuliskan puisi. Ketika Fanny berusia 20 tahun, ia 
terkenal di New York dan menjadi pembicara yang banyak dicari untuk 
kutipan-kutipan puisi maupun untuk upacara-upacara resmi.

Walaupun populer, ia merasakan ada sesuatu yang kurang pada hidupnya. 
Wabah kolera yang hebat, pada tahun 1849, menunjukkan padanya sesuatu 
yang kurang itu. Lebih dari separuh siswa siswi di Institut mati, 
salah satunya mati di pelukannya. Setelah membantu merawat mereka yang 
sakit selama beberapa bulan, ia hampir tertular oleh penyakit itu dan 
ia mengungsi ke luar kota.

Kematian teman-teman dekatnya sangat mengguncangkan Fanny. Di lubuk 
hatinya, ia tahu bahwa ia belum siap untuk mati. Pada 20 November 
1850, ia berlutut di depan mimbar gereja dan memberikan hatinya kepada 
Yesus. Penulis biografi Basil Miller menceritakan kata-katanya: "Untuk 
pertama kalinya, saya menyadari bahwa saya telah mencoba memegang 
dunia di salah satu tangan dan Tuhan di tangan yang lain." Akhirnya, 
Tuhan yang diperkenalkan oleh neneknya menjadi nyata baginya.

Mulai Membuat Lagu

Puisi-pusinya mencerminkan perubahan di hatinya dan lagu-lagu pujian 
menggantikan puisi-puisinya. Ketika ia bertemu dengan komponis 
Kristen, William Bradbury, pada tahun 1864, mereka segera bersahabat. 
Bradbury membuat lagu-lagu bagi banyak syair Fanny; walaupun ia 
bekerja dengan banyak komponis, kerja sama mereka yang paling erat.

Fanny biasanya menciptakan puluhan lagu di kepalanya sebelum ia 
mendiktekannya pada sekretarisnya, tetapi bagaimana pun ia mencipta, 
ia selalu menggunakan cara yang sama. Ia menyebutkan caranya: "Mungkin 
cara ini kuno, yaitu selalu memulai pekerjaan dengan berdoa. Saya tak 
pernah menuliskan lagu tanpa meminta pada Tuhan untuk menjadi sumber 
inspirasi saya."

Ia menerima banyak undangan untuk menjadi pembicara, sehingga ia 
kewalahan. Orang terkenal. Seperti Presiden Polk sering memanggilnya. 
Dengan memiliki banyak teman dan relasi, ia tak pernah merasa 
kesepian. Pada tahun 1858, Tuhan memberikan padanya seorang yang 
istimewa dalam kehidupannya, yaitu musisi buta Alexander Van Alstyne. 
Mereka menikah selama 44 tahun dan memunyai seorang anak yang 
meninggal pada waktu bayi.

Pada akhir masa hidupnya, Fanny tetap sibuk seperti biasa, bukan hanya 
dengan menulis lagu. Ia menaruh perhatian pada mereka yang kurang 
beruntung dan ia bekerja sukarela pada pusat pelayanan lokal. Bila ada 
seseorang yang datang padanya dengan pertanyaan atau keperluan, ia 
selalu menemuinya secara pribadi dan membagikan padanya terang firman 
Allah.

Semasa hidupnya, tentang kebutaannya, seorang pendeta dengan rasa 
simpatik bertanya kepadanya, "Saya rasa, sungguh membangkitkan belas 
kasihan. Sang Pencipta tidak memberi Anda penglihatan, padahal Ia 
memberikan banyak karunia lain pada Anda."

Dengan tangkas Fanny menjawab, "Tahukah Anda, seandainya saat lahir 
saya bisa mengajukan permohonan, saya akan meminta, agar saya 
dilahirkan buta."

"Mengapa?" tanya pendeta itu terperanjat.

"Karena bila saya naik ke surga nanti, wajah pertama yang akan 
membangkitkan sukacita dalam pandangan saya adalah wajah Sang Juru 
Selamat!"

Fanny wafat dengan tenang di rumahnya di Bridgeport, Connecticut, pada 
12 Februari 1915. Banyaknya orang yang datang saat pemakamannya 
merupakan bukti pengaruhnya yang luas, yang dimilikinya bagi Tuhan. 
Kata-kata ini berasal dari salah satu lagunya (Saved by Grace) yang 
menyatakan hal yang paling diharapkannya: "And I shall see Him face to 
face and tell the story –- saved by grace. (Dan, aku akan bertemu muka 
dengan-Nya dan menuturkan kisah -- diselamatkan oleh anugerah.)"

Diambil dan disunting dari:
Nama situs     : Catatan Mas Wrekso
Alamat URL     : http://www.oocities.org/sidiknugroho/fanny_crosby.htm
Penulis artikel: Sidik Nugroho
Tanggal akses  : 25 Januari 2013

PENYEBARAN KEKRISTENAN DI JAWA DAN PERTEMUANNYA DENGAN ISLAM PADA ABAD KE-19

Diringkas oleh: Yudo
William Carey, seorang tokoh misi dari Inggris, yang juga disebut sebagai "bapak misi modern" mendirikan British Missionary Society pada tahun 1792. Dalam tempo satu tahun, ia telah membuka posnya di Kalkuta, India. Dari sana, ia mengorganisasi misinya dan mengirim banyak utusan ke semua sudut Asia, termasuk Jawa. Setelah Carey berkonsultasi dengan Raffles, tibalah waktunya untuk mengirim William Robinson sebagai misionaris Baptis pertama ke Pulau Jawa. Robinson tiba di Batavia pada 1 Mei 1813. Tugas utamanya ialah menyampaikan Injil pada orang Jawa.
 
William Carey

Target utama yang diberikan oleh Carey kepada Robinson adalah ia harus menguasai Bahasa Jawa secepat mungkin agar mampu berkhotbah dalam bahasa tersebut, dan kemudian menerjemahkan Perjanjian Baru ke dalam Bahasa Jawa. Namun, ketika tiba di Batavia dan mengenali keadaan kota tersebut, Robinson menyadari bahwa tujuan awal yang telah dirancangkan di Kalkuta harus diubah. Batavia merupakan sebuah kota yang amat kompleks. Batavia merupakan kota perniagaan yang sibuk, pusat pemerintahan, dan dihuni oleh berbagai macam orang. Banyak sekali kelompok orang Kristen yang telah memulai karya misi di situ dan mereka bisa berbahasa Melayu, Portugis, maupun Belanda, namun tidak bisa berbahasa Jawa. Orang Jawa yang tinggal di Batavia, yang sebelumnya diperkirakan berjumlah besar oleh kantor pusat di Kalkuta, sebenarnya sangat sedikit. Sementara itu, ia mulai mempelajari Bahasa Melayu dan Belanda secara intensif.

Pada tahun 1814, pusat misi Baptis di India mengirim lagi dua orang misionaris untuk membantu Robinson. Mereka adalah J. Reily dan William Milne. Pada Mei 1815, J.C. Supper, G.Bruckner, dan J. Kam, dikirim oleh London Missionary Society bekerja sama dengan Netherlands Missionary Society. Dua bulan kemudian, Thomas Trowt, seorang penginjil lain dari misi Baptis pun menyusul. Trowt langsung dikirim dari Inggris untuk bekerja di Jawa. Sejak kedatangan Robinson pada 1813 sampai akhir masa pemerintahan Inggris di Jawa pada 1816, jumlah misionaris di Jawa berjumlah 10 orang.

Sebanyak dua orang dari sepuluh misionaris tersebut hanya berada di Jawa selama waktu yang singkat: Milne segera pergi ke Cina dan Joseph Kam melanjutkan perjalanannya ke Ambon. Walaupun mereka hanya tinggal dalam waktu singkat, buah yang mereka hasilkan sangatlah mengesankan. Milne berhasil membukakan kesadaran terhadap kelompok orang Cina, yang sampai saat itu belum mendapatkan perhatian apa-apa. Juga, kehadiran Joseph Kam di Surabaya telah meletakkan sebuah fondasi yang kuat untuk jemaat Kristen di sana. Kelompok J. Emde di Surabaya tidak dapat digambarkan tanpa pengaruh Kam. Kam turut serta dalam mempercepat proses penginjilan di Surabaya.

Para donatur untuk para pelopor Barat mengalami masalah dengan kepribadian orang Jawa, yang mereka gumulkan untuk mereka pahami. A. Kruyt, yang dari masa mudanya menemani ayahnya, J. Kruyt, dalam pelayanannya sebagai misionaris di Jawa Timur menyimpulkan bahwa, dalam kepribadian orang Jawa terdapat sesuatu yang tersembunyi seperti sebuah teka-teki yang telah menjadi sebuah rahasia selama berabad-abad. Karenanya, kaum misionaris sering merasa tertipu atau salah mengerti. Mereka sering mengira bahwa orang Jawa ingin menjadi percaya dan menjadi seorang Kristen, padahal dalam kenyataannya tidak. Hal yang sama dialami oleh Bruckner. Setelah 8 tahun berada di Semarang, ia merasa bahwa pekerjaannya tidak menghasilkan apa-apa, sehingga ia memasuki daerah pedalaman dan tinggal di Salatiga. Di sana, ia mendekati penduduk desa dan mereka tampaknya menerima apa yang disampaikannya. Meskipun mereka mengiyakan apa yang ia katakan, tetapi pada akhirnya Bruckner pun menyadari bahwa sikap mereka itu tidak dapat ditafsirkan sebagai penerimaan terhadap agama yang dibawanya. Pengalaman ini juga dialami oleh Robinson dan Supper di Batavia. Robinson dengan antusias menulis bahwa orang Muslim di Batavia tidak sefanatik orang Muslim yang ditemuinya di India. Namun demikian, dari orang-orang yang mendengarkan dengan penuh perhatian dan tanpa penolakan atau penentangan itu, tak satu pun dari mereka yang ingin menjadi orang Kristen.

Di sisi lain, antusiasme mereka kandas pada kesulitan-kesulitan yang mendasar, seperti masalah pengetahuan dan penguasaan Bahasa Jawa. Robinson, penginjil pertama yang tiba di Jawa, gagal mempelajari Bahasa Jawa dan menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa tersebut. Hal itu juga dialami oleh Thomas Trowt, yang sangat berbakat dalam bahasa dan kemampuan beradaptasi. Setelah bekerja selama 2 tahun di Semarang, di tempat dia menikmati sebuah hubungan yang baik dengan seorang pegawai Jawa, ia mampu melengkapi sepertiga bagian dari sebuah kamus Jawa-Inggris, sebelum ia mengalami nasib yang sangat mengenaskan. Trowt menderita disentri dan demam, dan selama 2 tahun ia terus menderita berbagai penyakit serius. Ia meninggal pada 25 Oktober 1816. Sebelum kematiannya, Trowt bisa berbahasa Melayu dengan lancar dan mulai menguasai Bahasa Jawa. Andai Trowt tidak meninggal terlebih dulu, misi Baptis di Semarang mungkin telah meninggalkan sebuah peninggalan yang sangat berharga.

Dalam sebuah periode singkat tersebut, Trowt telah membuka sebuah sekolah untuk penduduk setempat dan telah mengembangkan sebuah hubungan yang sangat dekat dengan Bupati Sura Adimenggala yang sangat terbuka terhadap pendidikan Barat. Adimenggala mengirim kedua putranya, Saleh dan Shukur, untuk belajar dengan Marshman dari Serampore, dari tahun 1812 sampai 1814. Sekolah ini disponsori oleh misi Baptis. Trowt berdiskusi dengan Adimenggala, berencana untuk mendirikan sebuah sekolah, menerbitkan berbagai buku dalam Bahasa Jawa, dan mendirikan sebuah sekolah untuk orang Jawa di Semarang. Menurut Trowt, Adimenggala sangat mendukung rencananya ini.

Dalam hubungan ini, baik Trowt maupun Adimenggala mendapatkan keuntungan. Dalam diskusi-diskusi mereka, tidak hanya ketertarikan Adimenggala dalam hal pendidikan saja yang didiskusikan, namun perhatian terhadap pemikiran keagamaan Trowt juga diperhatikan. Adimenggala menyatakan kesiapannya untuk mendukung tugas-tugas misi Trowt. Ia juga menanyakan hal-hal tentang agama pada Trowt. Dua hal yang sangat penting bagi Adimenggala: Mengapa ada banyak agama di dunia? Bagaimana kita bisa menentukan bahwa suatu agama adalah yang terbaik di antara agama-agama lain yang ada? Trowt menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan sebuah cara yang tidak menyerang agama yang dianut oleh Adimenggala. Ia tidak menggambarkan kesimpulan dari dialog tersebut. Trowt hanya ingin Adimenggala mengenal kekristenan dan hubungan baik dengannya akan terus berlanjut.

Berbagai macam keadaan menghalangi karya misi di Jawa agar tidak berlanjut dan tidak mencapai hasilnya yang maksimal. Supper, yang terus bekerja di Batavia sejak kedatangannya, menderita penyakit yang sama seperti yang dialami Trowt, ia meninggal pada 1816. Thomas Philips, yang menggantikan Trowt di Semarang, juga meninggal dini setelah mengalami penderitaan fisik dan mental. Nampaknya, kondisi kehidupan di negara tropis dan lingkungan sosial menghasilkan sebuah penghalang besar, yang pada akhirnya menghabiskan stamina fisik dan mental mereka. Minimnya fasilitas kesehatan, situasi politik yang tidak menentu, dan sedikitnya gaji yang diberikan oleh badan misi, tidak cukup untuk membuat mereka memiliki peluang mendapatkan perawatan kesehatan yang memadai. Kebanyakan dari mereka terserang demam, malaria, tifus, dan disentri.

Kondisi keuangan Baptist Missionary Society yang baru saja didirikan membuat mereka tidak mampu menjamin keseluruhan karya yang dilaksanakan oleh para pekerjanya. Karena kesulitan keuangan, beberapa orang meninggalkan tugas mereka dan bekerja di bidang lain. Robinson sibuk melayani sebuah jemaat militer; Supper, yang juga tinggal di Batavia, lebih banyak menghabiskan waktunya melayani komunitas orang Belanda daripada menjalankan upaya penginjilan di kalangan penduduk asli; James Reily, meninggalkan posnya sebagai seorang misionaris dan mengambil pekerjaan lain.

Pada 1816, pemerintahan dikembalikan kepada Belanda dan secara bersamaan pelarangan penyebaran agama Kristen kembali diadakan. Kebijakan keagamaan Raffles yang liberal menjadi terbatas oleh kebijakan otoritas Belanda yang sangat berhati-hati. Hal ini dilakukan demi menjaga keseimbangan dalam kehidupan keagamaan, namun terutama untuk menjaga agar tidak timbul guncangan dan hal-hal yang dapat memicu perlawanan pada komunitas Islam di Jawa. Satu-satunya misionaris yang diizinkan oleh pemerintah Belanda untuk terus bekerja adalah Gottlob Bruckner. Hal ini tentu saja tidak disebabkan oleh keberhasilannya dalam menyebarkan agama di antara para penduduk Jawa di Semarang! Sebaliknya, mereka memberikan izin karena Bruckner adalah satu-satunya misionaris yang gaya bekerjanya diam-diam dan tidak menonjol.

Bruckner bekerja di Jawa selama 43 tahun, tanpa tercatat seorang pun sebagai 'buah' dari tugasnya untuk memberitakan Injil. Ia tidak membaptis siapa pun. Namun sepanjang hidupnya, dengan stamina fisik dan mental yang luar biasa, Bruckner berhasil menerjemahkan Perjanjian Baru ke dalam bahasa dan tulisan Jawa. Ia menyelesaikan karyanya tersebut dalam waktu yang relatif singkat, kira-kira selama 8 tahun. Walaupun ia cukup baik diterima oleh penguasa, 'buah' yang terpenting dari karyanya, yang dilakukan dengan bersemangat, sangat terhalang. Atmosfer politis di seluruh Hindia Belanda mulai menunjukkan gejala kekacauan.

Puncak kesulitan yang disebabkan oleh pemerintah Belanda selama periode ini, terutama kepada para misionaris "non-Belanda" adalah penyitaan dan pelarangan penyebaran karya monumental Bruckner: Perjanjian Baru edisi Bahasa Jawa. Bruckner telah menyelesaikan manuskrip tersebut pada 1823. Ia harus menunggu selama 5 tahun sebelum ia bisa pergi ke Serampore untuk mencetak teksnya, dan di sana, ia menunggu selama 3 tahun. Akhirnya, 3000 kopi berhasil dicetak. Dengan sukacita, ia mengambil 2100 kopi untuk Batavia dan memberikannya kepada Dutch Bible Society -- ia sendiri hanya menerima 300 kopi. Sebelum membagikan Alkitab, direktur Dutch Bible Society merasa perlu untuk meminta izin Gubernur Jenderal. Keputusan yang dibuat oleh Gubernur Jenderal sangat mengecewakan Bruckner: "Perang baru saja berakhir; situasi yang tidak menguntungkan ini akan digunakan oleh orang untuk memberontak lagi jika kitab tersebut dibagikan di kalangan pribumi!" Terjemahan bersejarah Perjanjian Baru "untuk sementara waktu, sampai keadaan memungkinkan", disita oleh pemerintah. Sayangnya, kebanyakan dari kitab tersebut dimakan rayap ketika berada di gudang. Pada 1848, 17 tahun kemudian, sisa hasil terjemahan tersebut dibebaskan dari "penahanan".

Fase pertama kepeloporan misi Kristen di Jawa, dipimpin oleh Baptist Missionary Society telah dihalangi dan menemui kegagalan. Bahkan Bruckner, orang terakhir pada periode ini, tidak berhasil memenuhi harapan rekan-rekannya dari misi Baptis. Tidak ada seorang Jawa pun yang memilih untuk mendengar pesannya dan mengikuti jejak imannya. Namun, Bruckner telah memulai sebuah fase penting, sebuah fase yang diperlukan untuk pembentukan Gereja Kristen untuk orang Jawa: ia telah mempersiapkan sebuah manuskrip suci yang akan dibaca oleh orang Jawa sebagai fondasi kehidupan kerohanian mereka. Ia telah melaksanakan sebuah tugas yang tidak dapat dilakukan oleh siapa pun juga. Orang Jawa tidak dapat melakukannya, tidak juga orang Kristen dari misi Belanda. Bruckner sendirilah yang menyelesaikan tugas ini.

NZG mengirim J. F. C. Gericke ke Jawa pada 1826. Ia merupakan orang pertama dari kalangan misi yang memiliki bakat besar dalam linguistik, dan ia mendemonstrasikan sebuah profesionalisme yang melampaui kemampuan Bruckner. Gericke menggunakan terjemahan Bruckner sebagai sumber utamanya, dalam upayanya untuk menerjemahkan Perjanjian Baru ke dalam Bahasa Jawa. Periode ketiga ini diakhiri dengan sepucuk surat dari Bruckner pada rekan-rekannya di pusat misi Baptis di Serampore, 2 bulan sebelum kematiannya pada 9 Juli 1857.

Kisah pertama sejarah agama Kristen di Jawa dimulai dengan penuh antusiasme dan berakhir dengan kekecewaan. Karya Bruckner, pada paruh awal abad ke-19 merupakan representasi pergumulan para pelopor. Paruh kedua abad ke-19 merupakan kisah kedua dalam sejarah ini. Banyak badan baru muncul dengan berbagai cara, sehingga terdapat peluang yang lebih besar untuk berhasil. Para aktor dan layarnya mungkin berganti, namun karya terjemahan Bruckner merupakan sebuah pilar dalam sejarah yang akan menjadi pendukung utama untuk masa perkembangan agama Kristen di Jawa pada periode selanjutnya. (t/Rento)

(Diterjemahkan dan diringkas dari:/Judul buku: Mission at the Crossroads/Judul bab: The Spreading of Christianity in Java and Its Encounter with Islam in the 19th Century/Penulis: Th. Sumartana/Penerbit: PT. BPK Gunung Mulia, Jakarta 1994/Halaman: 10-15/i-kan-misi)

* * * * *

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman. (Matius 28:19,20)

Kamis, 14 Februari 2013

UNTA DAN LUBANG JARUM


Markus 10:17-27
Orang kaya sukar masuk Kerajaan Allah
10:17 Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"
10:18 Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorang pun yang baik selain dari pada Allah saja.
10:19 Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!"
10:20 Lalu kata orang itu kepada-Nya: "Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku."
10:21 Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: "Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."
10:22 Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.
10:23 Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah."
10:24 Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus menyambung lagi: "Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah.
10:25 Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."
10:26 Mereka makin gempar dan berkata seorang kepada yang lain: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?"
10:27 Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah."
Baca juga di Lukas 18:18-27/ Matius 19:16-26

Dalam ketiga Injil Sinoptik, perkataan ini muncul setelah peristiwa orang kaya yang ingin tahu bahaimana caranya memperoleh kehidupan yang kekal – dalam bahasa Injil, memperoleh kehidupan yang kekal sinonim dengan masuk Kerajaan Allah. Ketepatannya dalam mematuhi hukum tidak bisa disangsikan lagi – Ia meyakinkan Tuhan Yesus bahwa ia telah mematuhi semuanya sejak ia akil-balik, dan Tuhan Yesus tidak mengatakan bahwa perlakuan orang ini berlebih-lebihan. Tetapi untuk menguji keteguhan hatinya, Tuhan Yesus mempersilahkan dia menjual segala miliknya dan membagikannya kepada orang-orang miskin. "Maka", kata Tuhan Yesus, "engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku". Mendengar perkataan itu wajah orang kaya itu menjadi kecut. Pengorbanan ini terlalu besar dari apa yang ia sedia berikan. Kejadian ini menunjukkan sifat yang radikal dari pola pemuridan Tuhan Yesus dalam memanggil orang.

Kemudian untuk menggambarkan "alangkah sukarnya orang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah". Tuhan Yesus menggunakan ungkapan kata yang mengejutkan ini. PendengarNya langsung menganggap ini sebuah perkataan yang keras untuk dimengerti. Bukan saja sulit, tapi tidaklah mungkin seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sama seperti seekor unta melewati lubang jarum, betapapun besarnya lubang jarum itu. Para pendengar gentar, "jadi, siapakah yang dapat diselamatkan?", tanya mereka (Diselamatkan sinonim dengan masuk kedalam Kerajaan Allah dan memperoleh kehidupan yang kekal). 12 murid-murid Tuhan Yesus bukanlah orang-orang kaya. Petrus mewakili yang lain ketika ia berkata "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau" (Markus 10:28 ). Tetapi barangkali mereka tidak menyadari batapa ketatnya syarat-syarat memasuki Kerajaan Allah itu.

Kita kaji ayatnya :

* Matius 19:24
LAI TB, Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.
KJV, And again I say unto you, It is easier for a camel to go through the eye of a needle, than for a rich man to enter into the kingdom of God.
The Orthodox Jewish Brit Chadasha, And again I say to you, it is easier for a camel to go through the eye of a needle than for a rich person to enter into the Malchut (kerajaan) HaShomayim (surga).
TR, παλιν δε λεγω υμιν ευκοπωτερον εστιν καμηλον δια τρυπηματος ραφιδος διελθειν η πλουσιον εις την βασιλειαν του θεου εισελθειν
Translit. interlinear, palin {lagi} de {dan} legô {Aku berkata} humin {kepada kalian} eukopôteron {lebih mudah} estin {ia adalah} kamêlon {unta} dia {melalui} trupêmatos {mata} rhaphidos {jarum} dielthein {pergi} ê {daripada} plousion {orang kaya} eis {ke dalam} tên basileian {kerajaan} tou theou {Allah} eiselthein {masuk}

Ada usaha-usaha untuk menafsirkan ayat di atas dengan menganggap bahwa unta (Yunani: καμηλος - kamêlos) sebenarnya adalah tali tambang (Yunani: καμιλος - kamilos) atau bahwa ada gerbang kecil yang bernama lobang jarum yang begitu rendah sehingga seekor unta harus membungkuk kalau mau melewatinya.

Demikian pula ada usaha-usaha untuk menghubungkan kata Yunani καμηλος - kamêlos dengan kata Aram gamla' yang di samping bermakna unta juga dapat bermakna tali tambang. Padahal bahasa Aram untuk tali tambang adalah habla dan bukan gamla. Usaha yang disebutkan terakhir ini menyatakan bahwa naskah Perjanjian Baru Yunani sebenarnya merupakan hasil terjemahan dari teks asli berbahasa Semitik.

"And (dein) again (tub) I word ('emar) to you, it is easier (delila) for a camel (gamla) to pass (al) through the opening (herura) of a needle (mehata) than ('au) a rich ('atira) man to enter (al) the sovereigndom (malkuta) of God ('alaha)", The Aramaic New Covenant

Usaha yang kedua yaitu menyatakan bahwa ada gerbang kecil yang bernama lobang jarum dikemukakan oleh Lord George Nugent (1845). Ia menyatakan bahwa ada dua gerbang di kota Yerusalem, yang pertama dan agak besar digunakan bagi hewan beban, dan yang kedua agak kecil digunakan bagi pejalan kaki. Yang kecil inilah yang dewasa ini disebut sebagai mata jarum namun tidak ada bukti bahwa gerbang itu sudah ada di era Yesus Kristus. Canon Farrar, bahkan menyatakan bahwa nama mata jarum itu baru diberikan belakangan oleh kalangan Yahudi Kristen untuk merujuk kepada perkataan Yesus Kristus.

Pendapat bahwa unta adalah tali tambang jelas tidak tepat karena ada penulis Injil sinoptik semuanya menulis "καμηλος – kamêlos", bukan "καμιλος – kamilos". Pendapat kedua juga kurang tepat karena jika lobang jarum itu adalah gerbang kecil di Yerusalem, maka masih ada kemungkinan unta dapat melewatinya, bertentangan dengan ayat berikutnya bahwa bagi manusia, unta tidak mungkin dapat masuk melalui lobang jarum.

* Matius 19:26
LAI TB, Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.
KJV, But Jesus beheld them, and said unto them, With men this is impossible; but with God all things are possible.
TR, εμβλεψας δε ο ιησους ειπεν αυτοις παρα ανθρωποις τουτο αδυνατον εστιν παρα δε θεω παντα δυνατα εστιν
Translit. interlinear, emblepsas {memandang} de {tetapi} ho iêsous {Yesus} eipen {Dia berkata} autois {kepada mereka} para {bagi} anthrôpois {para manusia} touto {ini} adunaton {mustahil} estin {ia adalah} para {bagi} de {tetapi} theô {Allah} panta {segala sesuatu} dunata {dapat, mungkin} estin {ia adalah}

Satu hal lagi, nama-nama tempat di Israel dalam Alkitab Perjanjian Baru senantiasa ditulis dalam bahasa Ibrani atau Aram, tidak ada yang ditulis dalam bahasa Yunani, misalnya :
- Getsemani (Matius 26:36), dari kata Aram gat (anggur) syemen (minyak) atau bahasa Ibrani gay (lembah) syemen (subur) (Yesaya 28:1).
- Golgota (Matius 27:33), dari kata Aram (Ibrani: gulgolet), tengkorak.
- Betlehem (Lukas 2:4) dari kata Ibrani beyt lekhem dari kata bayit (rumah) dan lekhem (roti).
- Betesda (Yohanes 5:2) juga dalam bahasa Aram, Ibrani: bayit (rumah) dan khesed (kemurahan).

Jika seandainya ada gerbang kecil yang bernama lobang jarum pada zaman Yesus Kristus, baik Matius, Markus, maupun Lukas akan menuliskannya dalam bahasa Ibrani atau Aram, bukan dalam bahasa Yunani "trupêmatos rhaphidos" .

Kalangan Semitik (Ibrani, Aram, maupun Arab) biasa menggunakan tamsil (ibarat) seperti unta atau gajah melewati lubang jarum untuk melukiskan suatu kemustahilan :

"Anda tahu bahwa mereka tidak dapat memperlihatkan kepada seseorang pohon emas, tidak pula seekor gajah melewati mata jarum." (T. Bab. Beracot, vol. 55. 2.)

"Barangkali Anda adalah salah satu dari Pombedita (sekolah Yahudi di Babilonia) yang membuat seekor gajah melewati mata jarum." (T. Bab, Bava Metzia, vol. 38. 2.)

"Demi Allah, kami sudah melihat dengan mata kepala sendiri, membawa seekor gajah melewati mata jarum." (Prefat. ad Zohar, Editor Sultzbach}.

Bukan hanya kalangan Yahudi, namun di beberapa negara Timur, ungkapan seperti ini sering digunakan untuk menyatakan kemustahilan.

Maka, tak bisa disangkal bahwa Tuhan Yesus menggunakan gaya bahasa hiperbola yang lazim dalam masyarakat semitik untuk mengungkapkan sesuatu yang sama sekali tidak mungkin. Gaya bahasa hiperbola bisa juga kita temukan sewaktu Tuhan Yesus berbicara tentang orang dengan sebilah balok dimatanya yang ingin mengeluarkan selumbar atau setitik serbuk gergaji dari mata saudaranya (Matius 7:3-5; Lukas 6:41-42). Maksud pemakaian gaya bahasa hiperbola ini adalah supaya ajaran yang ingin disampaikan betul-betul dipahami dan tidak ada kemungkinan salah mengerti, yaitu : tidak mungkin seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah – bagi manusia hal itu tidak mungkin, Tuhan Yesus mekamuinya. Tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagiNya, juga untuk menyelamatkan seorang kaya. Jadi kalau demikian, maka hati orang kaya itu harus diubah. Cinta pada kekayaan duniawi harus diganti dengan cinta pada kekayaan sejati yaitu "harta di Surga".

Tidak mudah bagi siapapun untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah : "sesaklah pintu dan sempitlah jalannya" (Matius 7:14) – tetapi yang akan mengalami kesulitan paling ebsar ialah orang kaya. Ajaran mutlak dari Tuhan Yesus dalam Markus 10:24 : "Alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah" telah dikembangkan pada kesaksian-kesaksian yang muncul belakangan sehingga bisa dibaca sebagai berikut : "Allahkah sukarnya bagi orang yang percaya pada kekayaan masuk ke dalam Kerajaan Allah". Hal ini bisa merupakan usaha lain untuk memperlunak kekerasan pernyataan Tuhan Yesus itu.

Seorang pembaca bisa menghibur dirinya dengan berpikir "Aku memang mempunyai kekayaan, tapi aku tidak percaya kepadanya. Jadi aku baik-baik saja". Tetapi menurut ajaran Tuhan Yesus sangatlah sulit bagi orang kaya untuk menaruh percaya pada kekayaan itu. Bukti bahwa mereka menaruh percaya pada kekayaan atau tidak, akan terlihat dari kesediaan mereka untuk berpisah dengan kekayaan mereka.

Mengapa Tuhan Yesus mengangap kekayan sebagai penghalang seseorang masuk ke dalam Kerajaan Allah? Karena kenyataan bahwa orang yang memiliki kekayaan menggantungkan hidupnya pada kekayaan itu. Seperti petani kaya dalam perumpamaan Tuhan Yesus pada Lukas 12:16-21 yang memacu dirinya sendiri dengan pikiran tentang kekayaan besar yang ia timbun untuk bertahun-tahun lamanya. Bandingkan dengan orang zaman sekarang yang menanamkan modal besar sehingga memberi dia penghasilan besar yang tidak tergoncangkan oleh inflasi.

Rasanya tidak ada perkataan Tuhan Yesus yang lebih 'keras' bagi pola pikir manusia zaman sekarang ini daripada perkataan tentang 'unta dan lobang jarum' yang membuat orang sangat tergoda untuk memperlunak pengertiannya. (www.sarapanpagi.org/48-unta-dan-lubang-jarum-vt1129.html)

TANDA BAHAYA

Anda dan sahabat Anda sedang menginap di sebuah hotel berbintang. Di tengah malam ketika semua orang sedang tertidur lelap, tiba-tiba terjadi kebakaran di tempat itu. Teman Anda terbangun dan menyadari bahaya itu. Dia mendengar tanda peringatan dan berhasil menemukan jalan keluar dari kobaran api. Tapi sayangnya dia terlalu sungkan untuk membangunkan Anda. Dia takut Anda akan marah karena tidur Anda terganggu. Jadi dia membiarkan Anda tetap di sana, tertidur lelap dalam ruangan yang telah dikepung api.

Apa pendapat Anda mengenai sahabat Anda itu? Anda pasti akan sangat marah kepadanya bahkan mungkin menganggapnya sudah gila. Bagaimana mungkin dalam kondisi yang begitu mendesak dan berbahaya, dia takut mengganggu tidur Anda? Sekarang sebelum Anda meneruskan omelan Anda terhadapnya, mari kita melihat pada diri kita sendiri. Apakah kita juga telah menjadi “sahabat yang kurang waras” bagi saudara, keluarga, teman-teman, atau rekan kerja kita?

Apakah kita takut membuat teman kita tersinggung bila kita mengatakan padanya bahwa dia harus bertobat dari dosanya dan perlu diselamatkan? Apakah kita malas bertengkar dengan isteri, suami, anak atau orang tua kita, jika kita membicarakan soal Kristus? Takutkah kita dianggap terlalu fanatik oleh rekan bisnis kita, bila kita bersaksi tentang Yesus kepadanya? Bila jawabannya adalah iya, itu artinya kita sedang takut membangunkan mereka sehingga kita memilih untuk meninggalkan mereka dalam kobaran api. Itu juga sama artinya kita tidak benar-benar menyadari betapa kritisnya kondisi yang tengah mereka hadapi.

Bukan sebuah kebetulan bila Tuhan mempertemukan kita dengan orang-orang yang belum percaya. Mereka membutuhkan Tuhan, dan Tuhan memberi diri-Nya kepada mereka melalui kita. Ucapan kita yang selama ini tertahan, mungkin akan menyelamatkan hidup mereka selama-lamanya. Jadi, jangan bungkam.

Ekspresi kasih yang paling dalam kepada sesama adalah dengan mengenalkan Yesus kepada mereka. (TMS/renungan-spirit.com/renungan-kristen)

* * * * *

Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran. (2 Timotius 4:2)