Senin, 04 Mei 2015

KELUARGA PALSU Bacaan: Matius 15:1-9 NATS: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari Aku (Matius 15:8) Seorang kontraktor di Kalifornia mencetuskan suatu ide inovatif dalam menjual rumah-rumahnya. Ia pikir cara yang baik untuk membuat sebuah rumah tampak menarik adalah dengan menghadirkan keluarga di dalamnya saat ia memamerkan rumah itu kepada calon pembeli. Maka, ia menyewa para aktor untuk memerankan keluarga bahagia dalam rumah-rumah model yang dibangun perusahaannya. Bahkan, para pembeli dapat bertanya kepada para aktor tentang kondisi rumah itu. Setiap anggota keluarga palsu itu menjalankan perannya masing-masing. Ada yang memasak, menonton televisi, dan bermain sementara para calon pembeli rumah melihat-lihat. Pemalsuan seperti ini memang tak salah, namun renungkan kepura-puraan para pemimpin agama di zaman Yesus (Matius 15:1-9). Mereka pura-pura mengasihi Allah, dengan saleh membuat daftar aturan yang harus mereka dan orang lain patuhi. Namun, ini hanya cara agar mereka tampak saleh. Mereka bahkan menganggap aturan buatannya sama penting dengan Hukum yang langsung difirmankan Tuhan (ayat 5,6). Yesus menyebut mereka "munafik" (ayat 7). Di ucapan bibir saja tampaknya mereka menghormati Allah, tetapi hati mereka berkata lain -- mereka jauh dari-Nya (ayat 8). Orang di masa kini pun banyak yang berpura-pura seperti ini. Secara lahiriah kita seperti orang kristiani yang baik karena rajin ke gereja, menaati beberapa peraturan sesuai hukum, dan berkata benar. Kita berkata kita mengasihi Yesus, tetapi mungkin hati kita jauh dari-Nya. Allah menghendaki kita untuk tidak berpura-pura --AMC Allah melihat jalan kita dan mengenal hati kita, Apa yang dapat kita sembunyikan dari-Nya? Kebenaran lahiriah tak menyelamatkan, Dia tahu lubuk hati kita yang terdalam. --Sper KEPURA-PURAAN BERTENTANGAN DENGAN IMAN SEJATI

Mendengar Suara Allah

MENDENGAR SUARA ALLAH
C. Peter Wagner

Doa merupakan tindakan dua arah. Kita berbicara kepada Allah dan Ia berbicara kepada kita. Sama seperti saya bercakap-cakap dengan ayah saya jika saya menelepon dia. Hal ini harus menjadi pengalaman pribadi bagi setiap orang Kristen, meskipun ada sebagian dari jemaat yang tidak setuju dengan pendapat bahwa kita bisa mendengar suara Tuhan pada zaman ini. Orang-orang pada umumnya berpendapat bahwa Allah memimpin kita dan mengarahkan kita melalui kehidupan di sekelilingnya yang telah diatur secara ilahi. Namun, kalau bersikap seolah-olah "mendengar" langsung dari Tuhan, hal itu dianggap tidak menghormati. Hal ini memberi kesan bahwa kita mengutip perkataan Allah sendiri.

Suatu ketika, saya sedang memberi kuliah kepada 50 orang pendeta tingkat doktoral dalam bidang studi pelayanan di Fuller Seminary. Kuliah padat selama 2 minggu ini, dimulai setiap harinya dengan berdoa bersama selama 45 menit. Sudah menjadi kebiasaan saya untuk menunjuk seseorang memimpin seluruh kelas untuk berdoa. Tiap pagi, saya mengambil waktu untuk mendoakan setiap mahasiswa saya, dan bertanya kepada Tuhan siapa yang akan memimpin doa bersama hari itu. Selama 2 atau 3 hari pertama, saya menandai nama-nama orang (10 atau 15 orang), yang saya pikir adalah pemimpin doa yang cakap. Saya tidak menandai nama John Maxwell -- sahabat saya -- gembala dari Skyline Western Church di San Diego, yang kebetulan mengikuti kuliah itu. Saya tidak menandai namanya sebab ia adalah seorang pengajar dan hamba Tuhan yang terkenal. Saya menganggap John tidak perlu muncul lagi untuk lebih dikenal, dan saya tidak mau dianggap seperti memuji seseorang yang sudah terkenal di antara kami. Saya memutuskan orang lain yang akan memimpin kali ini.

Tetapi Allah membuat keputusan yang berbeda. Sementara saya mendoakan orang-orang yang namanya telah saya tandai pada Senin pagi minggu kedua itu, saya mendengar Allah berbicara dengan jelas, "John Maxwell yang berdoa hari ini." Saya memanggil John Maxwell dan ia memimpin kami berdoa. Pagi itu, kami menikmati waktu doa yang paling dahsyat dan sangat bermutu sepanjang dua minggu itu. Melalui pengalaman ini, saya percaya Allah masih berbicara sampai hari ini, dan kita dapat mendengar suara-Nya dengan jelas, sehingga kita benar-benar dapat mengutip perkataan-Nya.

Pewahyuan Allah secara umum dinyatakan kepada seluruh manusia melalui ciptaan-Nya. Tetapi pewahyuan khusus dinyatakan melalui firman-Nya. Allah telah berbicara kepada para rasul dan nabi, dan mereka menulis apa yang dikatakan-Nya (Ibrani 1:1-2). Saya percaya Alkitab tidak pernah keliru, tetapi saya juga menyadari bahwa Allah memunyai hal-hal yang akan diberitahukan-Nya yang tidak tertulis di Alkitab. Contohnya, ketika saya membuat keputusan untuk menikahi Doris atau memilih Alice Smith menjadi pendoa syafaat Doris dan saya. Tidak ada ayat di Alkitab yang mengatakan bahwa merekalah orangnya. Hal yang sama berlaku ketika saya menerima panggilan untuk bergabung dengan Fuller Seminary.

Ketika saya sedang berdoa di pagi hari, pikiran saya dipenuhi dengan hal-hal yang bukan berdasarkan pikiran sendiri mengenai Alice Smith. Saya lalu mengambil pensil dan buku catatan, dan mulai mencatat semua hal itu. Inilah yang saya catat.

"Engkau belum menyadari betapa pentingnya Alice Smith nantinya dalam melakukan peperangan rohani menggantikanmu. Ia akan menjadi pendoa syafaatmu yang sangat kuat. Engkau tidak akan memunyai hubungan pribadi tertentu dengannya. Engkau tidak perlu memberitahukan padanya apa yang harus didoakannya, sebab ia sangat dekat dengan-Ku dan mendengar suara-Ku dengan baik. Aku akan menunjukkan padanya apa yang harus didoakannya setiap hari. Engkau tidak perlu memberinya imbalan; imbalannya akan datang langsung daripada-Ku."

"Aku telah mempersiapkan dia untuk pelayanan ini, memberikannya 'peralatan' yang khusus, dan menunjukkan bagaimana cara menggunakannya. Namanya akan dikenal dan ditakuti di antara roh jahat. Mereka akan membencinya dan berusaha menghancurkannya, tetapi penderitaannya hanya sedikit. Suaminya akan menjadi pelindung dan pendukung baginya. Aku melakukan ini, sebab Aku telah memilih engkau untuk suatu pelayanan yang membutuhkan dukungan doa syafaat tingkat tinggi. Aku telah membawa orang-orang baru ke dalam hidupmu yang akan mengasihi engkau dan Doris, dan yang akan bertempur dan memenangkan peperangan rohani. Banyak dari pertempuran ini tidak akan engkau ketahui masalahnya, tetapi pertempuran ini akan menghancurkan engkau tanpa adanya dukungan doa syafaat. Para pendoa syafaat akan setia kepadamu, dan engkau akan bebas dari rintangan yang dibawa oleh musuh. Engkau telah menderita bagi-Ku dan sekarang sebagian besar telah berlalu."

Sementara saya menulis kata-kata ini, saya merasa seperti menulis suatu pewahyuan ilahi -- suatu pernyataan yang sangat penting dari Allah, pada masa yang penting dalam kehidupan dan pelayanan saya. Saya ceritakan hal itu kepada Alice ketika Doris dan saya mengundangnya untuk menjadi pendoa syafaat kami.

Kita percaya bahwa Allah menjawab doa. Biasanya kita menganggap bahwa jawaban doa datang melalui keadaan yang telah diatur oleh tangan Tuhan yang Mahakuasa, dan bukan melalui komunikasi langsung yang verbal. Melalui sebuah artikel dalam majalah yang pernah saya baca, saya diingatkan bahwa kita dipimpin oleh sesuatu yang dapat kita sebut "dorongan yang kuat dalam hati". Artikel ini membahas mengenai pelayanan salah seorang utusan Injil senior saya di Bolivia bernama Bill Hammond. Bill dan beberapa utusan Injil dari South America Mission, sedang mencoba menjalin hubungan dengan suku Indian Ayore -- suku bangsa yang liar, suka berperang, yang beberapa tahun silam telah membunuh lima utusan Injil dari New Tribes Mission.

Bill Hammond berdoa untuk terbukanya hubungan dengan suku Ayore. Pada suatu hari, ia "merasa adanya suatu dorongan yang kuat dalam hatinya" untuk pergi ke El Encanto. Ini bukanlah hal yang biasa dilakukannya, sebab hal ini berarti ia harus menunggang kuda sepanjang 75 mil melalui hutan belantara, jalan setapak yang berlumpur, bahkan banjir saat musim hujan. Akan tetapi, dorongan yang kuat dalam hati itu tidak hilang. Bill Hammond kemudian mencari seorang teman perjalanan dari Bolivia bernama Angel Bravo. Angel pun merasa adanya "dorongan yang kuat dalam hati" tanpa dimengertinya. Akhirnya, mereka berangkat dan berhasil membangun hubungan damai yang pertama dengan suku Ayore. Allah menyuruh Bill dan Angel pergi ke El Encanto. Terserah apakah kita mau menyebutnya suatu "dorongan yang kuat dalam hati" atau "karunia marifat", tetapi kami menganggapnya sebagai petunjuk yang cukup kuat dari Allah, untuk memulai sesuatu yang sama pentingnya dengan perjalanan pelayanan yang berpotensi mengancam kehidupan.

Awal tahun 1989, Doris dan saya bertemu dengan Cindy Jacobs -- seorang pendoa syafaat. Kami membangun hubungan yang akrab dengan Cindy dan suaminya, Mike. Saya mengundang Cindy menjadi pembicara pada retret tahunan dari persekutuan kelas sekolah minggu kami yang ke-120, pada musim gugur itu. Hasil pelayanan ini sungguh luar biasa. Melalui retret itu, bahkan sampai hari ini, banyak orang yang menghadiri pertemuan tersebut menandai tanggal itu sebagai awal perubahan penting dalam hidup mereka. Kami menyalin kembali dan menerbitkannya dalam majalah berkala "Body Life".

Peter Lord dalam bukunya yang berjudul "Hearing God" menegaskan, "Tidak ada jalan bagi kita untuk mengalami janji-janji Allah kecuali kita mengenal Dia dan mendengar suara-Nya berbicara pada kita." Ia menjelaskan dengan baik sekali. Banyak dari kita sekarang mulai mengalami doa dua arah dan mendengar suara Tuhan. Sementara kita bertumbuh dalam hal ini, kita dapat mengharapkan banyak dari doa retorik kita diubah menjadi doa tindakan yang sangat menggairahkan.

(Diambil dari:/Judul asli buku: Churches That Pray/Judul buku: Gereja yang Berdoa/Judul artikel: Mendengar Suara Allah/Penulis: C. Peter Wagner/Penerjemah: Rina Letedara/Penerbit: Yayasan ANDI Yogyakarta dan Metanoia Publishing, Jakarta 1999/Halaman: 51-70/e-DOA/Diringkas oleh:Novita Yuniarti)

* * * * *

Dan TUHAN memperdengarkan suara-Nya di depan tentara-Nya. Pasukan-Nya sangat banyak dan pelaksana firman-Nya kuat. (Yoel 2:11)

Kamis, 30 April 2015

PENGALAMAN YANG HILANG Bacaan: Mazmur 51:3-15 NATS: Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu (Mazmur 51:14) Seorang pendeta di Los Angeles mengunjungi seorang pria dan menanyakan apakah ia seorang kristiani. "Oh, ya. Saya adalah anggota sebuah gereja di Ohio," katanya, "dan pada saat saya meminta surat keanggotaan gereja sebelum datang ke sini, saya duduk dan menuliskan pengalaman kristiani saya di atas sehelai kertas. Saya telah menyimpan kedua surat tersebut di dalam sebuah kotak kecil. Saya akan menunjukkannya kepada Anda." Ketika ia mengeluarkan kotak itu, ternyata seekor tikus telah menggerogoti kotak itu dan menghancurkan surat-surat yang ada di dalamnya. Ia berkata kepada sang pendeta, "Saya telah kehilangan pengalaman kristiani dan surat gereja saya." Jika hanya kedua dokumen itu yang hilang, kehilangan itu tidaklah besar. Banyak orang menanam "saham" yang besar di dalam sertifikat baptisan atau surat keterangan gereja, namun mereka tidak mengalami karya anugerah sejati di dalam hati. Hanya iman di dalam Sang Juruselamatlah yang akan memberikan keselamatan. Orang-orang kristiani sejati juga dapat belajar dari cerita ini. "Pengalaman" mereka yang dulu penting mungkin telah "disimpan di dalam kotak" dan dibiarkan membusuk. Mereka telah gagal untuk menjaganya tetap segar dan hidup, melalui persekutuan setiap hari dengan Tuhan melalui doa dan pemahaman Alkitab. Jika hal ini menggambarkan diri Anda, berserulah bersama Daud, "Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu" (Mazmur 51:14) —PRVG IMAN DI DALAM PENGAKUAN IMAN RASULI DAPAT MENJADI BUSUK TETAPI IMAN DI DALAM KRISTUS DAPAT TETAP SEGAR SETIAP HARI
MAHKOTA YANG DIPERSEMBAHKAN Bacaan: Wahyu 4:6-11 NATS: Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa (Wahyu 4:11) Suatu kali pada masa pemerintahannya, Ratu Victoria dari Inggris mendengarkan khotbah yang dibawakan oleh seorang pendeta. Khotbah itu adalah tentang kedatangan Kristus yang kedua kali. Orang-orang yang duduk di dekat tempat khusus sang ratu dapat melihat bahwa ratu berlinang air mata. Seusai kebaktian, ia ingin bertemu dengan pendeta itu seorang diri. Ketika melihat perasaan sang ratu yang begitu mendalam, sang pendeta lalu menanyakan alasan sang ratu begitu terharu. Ratu menjawab, "Karena khotbah Anda tentang kedatangan kembali Sang Raja dunia yang tak bercela itu, saya berharap saya masih hidup ketika Dia datang kembali sehingga saya dapat meletakkan mahkota saya di kaki-Nya!" Ada upah yang besar untuk pelayanan yang setia, yang melibatkan tindakan dan motif kita. Upah-upah ini, yang disebut sebagai "mahkota" dalam Perjanjian Baru, akan didapat oleh mereka yang telah menerima hadiah kehidupan kekal. Mungkin Anda akan berkata, "Saya tidak mengharapkan upah atas apa pun yang saya lakukan untuk Kristus." Sudahkah Anda merenungkan apa yang dapat Anda lakukan dengan mahkota apa pun yang Anda terima hari itu? Tidak akan ada tempat memajang piala di surga; tidak akan ada sorak kemenangan terhadap prestasi duniawi. Para pendosa yang telah ditebus akan mendapatkan sukacita yang luar biasa karena dapat melemparkan mahkota mereka di hadapan takhta-Nya sembari berkata, "Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa" (Wahyu 4:11) --PRV MAHKOTA SURGAWI BUKAN UNTUK DISIMPAN MELAINKAN UNTUK DIPERSEMBAHKAN DI KAKI KRISTUS

Selasa, 28 April 2015

Mengapa Tuhan memberikan kita masalah?

Masalah-masalah yang kita hadapi bisa membuat kita jatuh atau bertumbuh, tergantung dari bagaimana cara kita menanggapinya. Sangat disayangkan banyak orang gagal untuk melihat bagaimana Tuhan menggunakan masalah untuk kebaikan mereka. Mereka lebih memilih untuk bertindak bodoh dan membenci masalah-masalah mereka daripada menghadapi dan merenungkan kebaikan apa yang bisa mereka dapat dari masalah-masalah tersebut.
 
Ada lima cara Tuhan menggunakan masalah-masalah dalam kehidupan kita untuk menjadi sesuatu kebaikan bagi kita:
 
1. Tuhan menggunakan masalah untuk MENGARAHKAN kita.

Kadang-kadang Tuhan harus menyalakan api di bawah kita untuk membuat kita tetap bergerak. Sering kali masalah yang kita hadapi akan mengarahkan kita ke arah yang baru dan memberikan kita motivasi untuk berubah. Ada kalanya masalah menjadi cara yang Tuhan pakai untuk menarik perhatian kita.
 
2. Tuhan menggunakan masalah untuk MENGUJI kita.

Manusia bagaikan teh celup... jika Anda ingin tahu apa yang ada di dalamnya, celupkan saja ke dalam air panas! Tuhan kadang ingin menguji kesetiaan kita melalui masalah-masalah yang kita hadapi.

"Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan,apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan." (Yakobus 1:2-3)
 
3. Tuhan menggunakan masalah untuk MENGOREKSI kita.

Ada pelajaran-pelajaran yang hanya dapat kita pelajari melalui penderitaan dan kegagalan. Mungkin waktu kita masih kecil, orang tua kita mengajar kita untuk tidak boleh menyentuh kompor yang panas. Tetapi mungkin kita baru benar-benar belajar justru setelah tangan kita terbakar. Kadang-kadang kita baru bisa menghargai sesuatu: kesehatan, teman, dan hubungan, saat kita sudah kehilangan.

"Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supayaaku belajar ketetapan-ketetapan-Mu." (Mazmur 119:71)
 
4. Tuhan menggunakan masalah untuk MELINDUNGI kita.

Suatu masalah bisa menjadi berkat jika masalah tersebut menghindarkan kita dari bahaya. Tahun lalu ada seorang Kristen yang diberhentikan dari pekerjaannya karena ia menolak untuk melakukan sesuatu yang tidak etis bagi bossnya. Ia menjadi mengganggur, tetapi justru dari masalah itulah ia terhindar dari ditangkap dan dimasukan ke dalam penjara, karena setahun kemudian tindakan bos itu terbongkar.

"Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan." (Kejadian 50:20)
 
5. Tuhan menggunakan masalah untuk MENYEMPURNAKAN kita.


Jika kita menanggapi masalah dengan cara dan pandangan yang benar, masalah tersebut bisa membentuk kita. Tuhan lebih memperhatikan karakter kita daripada kenyamanan kita. Hanya hubungan kita dengan Tuhan yang akan kita bawa sampai kekal.

" ... Kita malah bermegah dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita." (Roma 5:3-4)
 
(Disarikan dari: Milis Diskusi e-AyahBunda/Sumber: e-Konsel edisi 4/2001)

* * * * *

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. (Roma 8:28)